Dedi Mulyadi Buka Suara Soal Debat dengan Aura Cinta

Dedi Mulyadi Buka Suara Soal Debat dengan Aura Cinta
Dedi Mulyadi Buka Suara Soal Debat dengan Aura Cinta
0 Komentar

Namun, Aura memiliki pandangan berbeda. Ia merasa bahwa acara perpisahan penting untuk memberi kesempatan kepada para siswa berkumpul dan berinteraksi terakhir kalinya dengan teman-teman sekelas sebelum berpisah jalan.

“Menurut saya, acara perpisahan itu penting. Karena itu momen terakhir kami bisa berkumpul dan berinteraksi bersama teman-teman sebelum benar-benar menjalani kehidupan masing-masing,” ungkap Aura dengan nada tegas.

Tak hanya soal acara perpisahan, perdebatan pun berkembang menyentuh latar belakang kehidupan keluarga Aura.

Baca Juga:Trik Agar Pengajuan KUR BRI 2025 Disetujui dan Cepat Cair5 Uang Kertas Kuno Indonesia yang Memiliki Harga Ratusan Juta dan Diburu Kolektor

Dedi mengungkapkan bahwa keluarga Aura merupakan korban penggusuran yang tinggal di bantaran kali.

Ia pun mengingatkan agar keluarga seperti Aura tetap menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi ekonomi mereka.

Menurut Dedi, banyak warga yang meminta ganti rugi rumah setelah digusur, namun ia mempertanyakan kesanggupan membayar sewa lahan selama bertahun-tahun bila dilihat dari sudut pandang hak milik.

“Kalau mau adil, tinggal di tanah milik orang harus membayar. Kalau saya hitung, sudah berapa tahun tinggal gratis? Harusnya bayar tiap tahun,” ujar Dedi.

Dedi kemudian bertanya secara langsung, “Kamu mengakui miskin?”

Aura menjawab jujur, “Iya, saya akui saya miskin.”

Mendengar itu, Dedi melanjutkan pernyataannya dengan menyoroti ketidakselarasan antara kondisi ekonomi dan gaya hidup.

“Kalau kamu mengakui miskin, kenapa masih ingin hidup bergaya, termasuk menuntut adanya perpisahan sekolah? Kenapa tidak lebih prihatin terhadap kondisi?” sindir Dedi.

0 Komentar