Kesenian Sunda Kian Mendunia, Reak Diperkenalkan dalam Film Cosmic Balance yang Tayang Perdana di Denmark

Penerus Generasi ke-4 Kelompok Reak Juarta Putra sekaligus tokoh utama pada film Cosmic Balance, Anggi Nugraha (tengah) saat hadiri penayangan perdana film Cosmic Balance di acara The Copenhagen International Documentary Film Festival yang digelar di Kopenhagen, Denmark. (Foto: Anggi Nugraha for Jabar Ekspres)
Penerus Generasi ke-4 Kelompok Reak Juarta Putra sekaligus tokoh utama pada film Cosmic Balance, Anggi Nugraha (tengah) saat hadiri penayangan perdana film Cosmic Balance di acara The Copenhagen International Documentary Film Festival yang digelar di Kopenhagen, Denmark. (Foto: Anggi Nugraha for Jabar Ekspres)
0 Komentar

Melalui pandangan dan perjalanan hidupnya, film ini menunjukkan bagaimana generasi muda berusaha untuk menjaga dan memperkenalkan seni tradisional kepada dunia yang semakin maju.

“Reaksi orang-orang ketika menonton film Cosmic Balance sangat terkesima, apalagi ketika Kidung Bubuka dilantunkan oleh Yunia Fasya Fauziyyah,” ujar Anggi.

“Membuat suasana yang dirasakan penontonnya semakin syahdu dan terharu,” tambahnya.

Hal lain yang paling luar biasa, ucap Anggi, adalah ketika seorang editor musik asal Denmark yakni Jenno (Jens Bjørnkjær) dan pelantun lagu Elsa Torp atau akrab disapa Mother Elisa, mengaransemen lirik lagu Kidung dari Basa Sunda ke dalam Bahasa Inggris.

Baca Juga:Perpanjangan Kontrak Mo Salah Kian Dekat?Ada Pembebasan Pajak Pokok Kendaraan Mutasi dari Luar Daerah Jabar, Catat Tanggalnya!

“Itu sangat luar biasa! Sungguh, Andreas pun sebagai Director, Cinematographer, dan Executive Producers sangat hebat, keren sekali!,” ucapnya.

“Andreas yang telah menekuni bidang film dokumenter di tahun ke-25 nya bisa memperkenalkan Seni Reak ke Denmark dan aku sangat berterima kasih sebanyak-banyaknya,” lanjut Anggi.

Dengan adanya film ini, dia berharap tidak hanya memberikan apresiasi terhadap Seni Reak, tetapi juga dapat menginspirasi penonton untuk lebih menghargai dan melestarikan warisan budaya yang ada.

Anggi menyampaikan, film Cosmic Balance mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita sebagai individu dan masyarakat, dapat menciptakan keseimbangan yang harmonis antara budaya tradisional dan kemajuan zaman yang terus berubah.

“Melalui Cosmic Balance, diharapkan penonton dapat menemukan kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan antara masa lalu, sekarang, dan masa depan,” imbuhnya.

“Jika dalam istilah Basa Sunda ‘Ngindung ka Waktu, Mibapa ka Zaman’ yang artinya harus senantiasa mengikuti perkembangan zaman dan tidak melupakan nilai-nilai tradisi,” pungkas Anggi. (Bas)

0 Komentar