Kesehatan yang merosot memaksanya pulang sementara ke Ciamis Februari 2025 ini. Tapi ia bersikukuh akan kembali setelah sembuh. “Kontrak tiga tahun. Saya harus tepati,” katanya, meski raut wajahnya mengisyaratkan keraguan.
BACA JUGA: Malam Kelam di Purwodadi, 7 Kambing dan 1 Motor Raib dalam Senyap
Dodi sendiri mengaku masih menyimpan janji terselip. “Jika keadaan memungkinkan, saya ingin kembali membangun desa. Tapi untuk sekarang, saya harus pilih antara idealisme dan kebutuhan keluarga,” ucapnya.
Di teras rumah kayunya yang sederhana, Dodi memandang jauh ke hamparan sawah Sukamulya. Tangannya yang masih merah mengusap foto kenangan saat ia masih mengenakan kemeja dinas lurah. “Saya bukan pahlawan. Hanya orang desa yang berusaha jujur pada diri sendiri,” ujarnya.
Bagi Dodi, di luar angin berbisik, terkadang pilihan hidup tak pernah hitam-putih tapi abu-abu, seperti kabut pagi di perbatasan antara desa dan rantau.
Kepergian Dodi meninggalkan luka. Pujiman (52), warga setempat, mengenangnya sebagai pemimpin yang selalu blusukan ke kubangan sawah sekalipun. Saat berpamitan, puluhan warga mengantarnya hingga ke bandara. “Banyak yang nangis. Mereka khawatir tak ada lagi pemimpin yang sekomunikatif Pak Dodi,” kata Pujiyanto, sekretaris desa. (CEP)