JABAR EKSPRES – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Barat, soroti bencana banjir rob yang sempat menerjang wilayah pesisir di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu pada 29 Januari 2025 lalu.
Direktur Eksekutif Walhi Jabar, Wahyudin Iwang mengatakan, musibah banjir rob di Indramayu beberapa waktu lalu itu, dinilai kembali mempertontonkan kegagalan pemerintah dalam melindungi warganya.
“Tim Desk Disaster Walhi Jabar menemukan fakta mencengangkan, bahwa tragedi yang menimpa ribuan warga ini sebenarnya dapat diminimalisir,” katanya kepada Jabar Ekspres, Rabu (12/2).
Baca Juga:Hari Kedua Operasi Keselamatan Lodya, 31 Pengguna Jalan Ditindak Satlantas Polrestabes BandungPemkab Bandung Rencanakan Pemekaran menjadi 411 Desa?
Menurut Iwang, bencana tersebut dapat diminimalisir, apabila pemerintah tidak mengabaikan tanda-tanda kehancuran ekosistem pesisir selama puluhan tahun.
“Investigasi Walhi Jabar mengungkap fakta mengejutkan tentang skala kehancuran yang terjadi,” ujar Maulana.
Dia mengungkapkan, kehancuran yang dimaksudkan itu, tidak kurang sekira 845 jiwa menjadi korban langsung dari kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat.
“Di Desa Eretan Kulon saja, 135 rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 2 meter, menenggelamkan harapan warga akan kehidupan yang aman,” ungkap Maulana.
“Dari jumlah tersebut, 8 hingga 10 rumah mengalami rusak berat dan 15 hingga 20 lainnya rusak ringan,” tambahnya.
“Ini bukan sekadar angka statistik, ini adalah hilangnya tanah kelahiran, rumah, dan mata pencaharian warga,” terangnya.
Maulana memaparkan, seorang warga bernama Damuri sempat bercerita kepadanya. Pernah ada seorang warga negara asing (WNA) asal Jepang, yang datang untuk mencari makam leluhurnya di desa tersebut.
