Naskah Khutbah Jumat Tentang Isra Miraj sebagai Momentum Aktualisasi Islam yang Rahmatan Lil Alamin

ILUSTRASI Naskah Khutbah Jumat tentang isra Miraj.
ILUSTRASI Naskah Khutbah Jumat tentang isra Miraj.
0 Komentar

Model beragama seperti itu jelas merupakan wujud keberagamaan yang semu. Sebab salah satu wujud keberagamaan yang hakiki, ditandai dengan kemampuan seseorang menjalin komunikasi dan interaksi sosial yang baik dengan sesamanya, sesuai dengan akhlak-akhlak luhur yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebagaimana hal ini telah diajarkan pula oleh Raden Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang) dalam salah satu “piwulang” nya kepada Raden Sa’id (Sunan Kalijaga): “marsudi urip rukun, nuju nur alam cahyaning sejati” (bahwa menjalin hubungan baik dengan sesama, adalah wujud kematangan spiritual dan kesempurnaan iman seseorang).

Di samping itu, perisiwa Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha juga memberi isyarat bahwa, mestinya antara satu masjid dengan masjid lainnya harus ada sinergi atau kerjasama yang harmonis dalam membangun kegiatan dakwah dan pendidikan keagamaan kepada masyarakat secara luas. Jangan sampai, masjid justru hanya dijadikan sebagai ajang untuk membentuk ideologi sektoral secara eksklusif dan sempit, yang justru merusak jalinan ukhuwwah antar umat Islam.

Baca Juga:Aplikasi Penghasil Uang Tercepat 2025, Beri Saldo Gratis Hingga Rp500.000 Dalam Hitungan JamPinjol dan Dept Collector Nakal Bisa Dipenjara 10 Tahun Jika Langgar Aturan Baru OJK, Ini Detailnya

Misalnya, dengan mudah orang lalu mengkafirkan atau membid’ah-kan kelompok lain yang berbeda, apalagi masjid lalu dijadikan sebagai tempat untuk menanamkan ideologi politik “keislaman sempit” yang anti-Pancasila dan NKRI sebagaimana yang saat ini marak di berbagai tempat. Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Kedua, peristiwa Mi’raj, di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratil Muntaha, berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala. Perjalanan spiritual itu memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa manusia dalam menjalani kehidupannya harus melakukan upaya “transedensi”, yakni mendekatkan diri kepada Tuhannya:

Allah subhanahu wata’ala, sehingga terhindar dari jebakan-jebakan materi-duniawi yang seringkali membuat manusia kalap dan lupa diri, hingga berani melakukan tindakantindakan penyelewengan atau pun pelanggaran hukum yang banyak merugikan orang lain. Sebagai makhluk yang disebut homo religius, manusia harus mampu membangun relasi atau hubungan yang harmonis dengan Tuhan-nya. Dengan begitu, maka sifat-sifat Tuhan sebagai Dzat yang Maha Pengasih dan Sumber Kebaikan, harus dapat diterjemahkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

0 Komentar