Keluhan para pelaku sendiri yakni lebih pada sarana prasarana, dimana akses gedung yang akan dipakai terbatas. Hanya aja di timur dan di tengah kota atau Mayang Sunda, padahal banyak akses ke tempat publik lain milik pemkot, misal dengan kerjasama pemkot bisa mengusahakan para pelaku budaya masuk ke mall-mall, tiap minggu rutin tampil disana.
“Kalau didewan kamis ada penampilan kebudayaan. Saya pernah kebandara Jogya, disitu ada orang menari pakai musik, tari daerah di atas stage ada kotak agar orang bisa donasi. Saya kira disitu saja orang bisa dapat kehidupan, dapat pekerjaan. Terus orang tarian apa itu, dapat informasinya karena ada semacam papan informasi tarian didepannya. Nah kalau mereka dikasih kesempatan perfom begitu gak dibayar bandara pun cukup, asal ada kotak untuk orang bisa berdonasi, tinggal dibikin bagus dan tertib,” ucapnya.
Untuk Kota Bandung sendiri kata Yoel, terjadi di jalan-jalan Asia Afrika, banyak orang kreatif pakai cosplay untuk menyalurkan hoby juga mencari uang.
“Tapi kan itu tergantung keinginan pasar. Kalau dari kebudayaan kita tarian daerah, alat musik daerah harus diarahkan, ditaro, dibikin bagus, disana live performance ada kotak untuk donasi. Di mall juga bisa, gak perlu dikasih ruangan, ada tanda sedang performance itu sudah menghargai sehingga gak cuma setitik, bisa ada tiga empat titik di tiap mall, nah itu kan lumayan banget. Lalu ada informasi untuk orang yang melihat dan minat belajar bisa daftar kemananya, jangan kaya sekarang kalau mau belajar tari jaipong harus browsing. Dari ribuan orang pasti ada yang nyangkut!, musik selain angklung kan ada yang lain-lain juga nah itu kan yang belum popular gimana, nah itu bisa diusahakan,” ujarnya mengakhiri.