JABAR EKSPRES, CIMAHI – Maraknya kasus cuci darah pada remaja yang diakibatkan oleh konsumsi makanan dan minuman mengandung pemanis secara berlebihan menjadi perhatian banyak pihak.
Meskipun demikian, Dinas Pendidikan Kota Cimahi mengaku belum menemukan kasus tersebut. Namun, tantangan dalam implementasinya masih menjadi pekerjaan rumah.
“Kendala yang dihadapi itu mengatur para pedagang dari luar. Untuk itu, kami lakukan sosialisasi dan pemahaman, misalnya, janganlah hanya mementingkan keuntungan saja,” ujar Nia saat ditemui oleh Jabar Ekspres di Kantor Disdik Pemkot Cimahi, Senin (12/8).
Baca Juga:Menakar Sisa Lahan Sawah di Bandung, Gin Gin: Hanya Cukup untuk 5 Persen PendudukMasih Dibutuhkan Rakyat, Dewan Turut Dorong Program Rutilahu jadi Prioritas
Kemudian, Nia juga menghimbau agar pedagang dan masyarakat menghindari makanan atau minuman, mengandung pewarna buatan serta bahan pengawet yang berisiko bagi kesehatan tubuh.
“Peran keluarga itu sangat penting, dan menurut saya, ini tidak lepas dari pola konsumsi pangan yang tidak sehat. Intinya itu,” tegas Nia.
Sementara itu, Nia turut mengungkapkan keprihatinannya dan mengaitkannya dengan pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi fast food, minuman bersoda, dan makanan beku (frozen food) yang banyak mengandung pengawet dan pewarna.
“Saya juga prihatin banyak anak-anak muda yang melakukan cuci darah. Ini sebenarnya berkaitan dengan fungsi ginjal, yang tugasnya menyaring darah dari zat-zat yang tidak berguna bagi tubuh,” jelasnya.
