JABAR EKSPRES – PT Kimia Farma Tbk berencana tutup 5 pabrik dalam dua hingga tiga tahun mendatang. Keputusan ini didasarkan pada kapasitas produksi yang sangat rendah, sehingga pabrik-pabrik tersebut tidak lagi efisien.
Mengenai nasib para karyawan, Arya menekankan bahwa Kementerian BUMN meminta Kimia Farma untuk memberikan keadilan.
“Arahan kami adalah mencari solusi win-win bagi Kimia Farma dan karyawan. Meskipun pabrik harus ditutup, perusahaan harus membuat keputusan terbaik dan adil,” tambahnya.
Baca Juga:Viral Pemilik Gerebek Anak Kos yang Diduga Idap Hoarding Disorder, Apa Itu?Pahami Penyebab dan Gejala Bakteri Pemakan Daging di Jepang yang Mematikan
Direktur Produksi dan Supply Chain Kimia Farma, Hadi Kardoko, menjelaskan bahwa penutupan ini dilakukan setelah mempertimbangkan keberlanjutan bisnis.
Tujuannya adalah untuk meningkatkan utilisasi pabrik dan fasilitas produksi agar lebih optimal, serta menekan biaya operasional yang membengkak.
“Saat ini, dengan operasional tiga shift, utilisasi pabrik kurang dari 40 persen. Dengan penutupan dan penataan ini, kami berharap dapat meningkatkan utilisasi di atas 40 persen dan mencapai efisiensi yang lebih baik,” jelas Hadi.
Penutupan pabrik dalam industri farmasi tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba. Proses ini memerlukan waktu dan harus disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan instansi terkait lainnya.
“Kami harus memastikan ketersediaan obat di masyarakat tetap terjaga. Oleh karena itu, rasionalisasi ini dilakukan dengan mempertimbangkan keberlanjutan bisnis dan peraturan yang ada,” kata Hadi.
Dengan penutupan ini, Kimia Farma berupaya menciptakan struktur produksi yang lebih efisien dan mampu memenuhi permintaan pasar dengan lebih baik.
