JABAR EKSPRES – Publik yang sudah mulai lengah dengan Covid-19 kini harus bersiap-siap lagi menghadapi ancaman baru dari varian Omicron terbaru selain Eris. Varian terbaru yang dijuluki BA.6 ini merupakan turunan dari varian Omicron yang sudah mengalami mutasi. Berbeda dengan varian Eris atau EG.5 yang juga subvarian Omicron, B6.A ini berpotensi menimbulkan gelombang Covid-19 berikutnya.
Lebih mengerikan lagi, peneliti menyebut vaksin yang selama ini sudah diperoleh masyarakat dikatakan tidak begitu efektif melawan B6A.
Namun, belum ada laporan terkait karakteristik alami virus saat menyerang kekebalan tubuh pasien, atau seberapa bahaya dari subvarian tersebut.
Baca Juga:7 Amalan Yang Dapat Jaminan Rumah Di Surga Jika Rutin DilakukanAdab Hutang Piutang dalam Islam, Agar Terhindar dari Dosa
Subvarian baru dari Omicron ini lagi-lagi harus membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) waspada, karena belum selesai menangani varian Eris atau EG.5 kini harus memecah perhatian pada B6.A.
Varian Eris kini sudah menyerang 51 negara di dunia, sehingga statusnya akhirnya dinaikkan oleh WHO, menjadi variant of interest (VOI), yakni varian COVID-19 yang memiliki kemampuan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. Beberapa pengaruhnya, seperti tingkat keparahan penyakit, pelepasan kekebalan, penularan, dan kemampuan tidak terdeteksi.
Padahal sebelumnya varian Eris hanya masuk ke dalam daftar varian under monitoring (VUM) pada 19 Juli 2023. Subvarian EG.5 merupakan keturunan dari XBB.1.9.2 yang memiliki karakteristik mirip dengan XBB.1.15.
Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu negara yang kini tengah dihadang varian tersebut lantaran memicu kenaikan kasus. Bahkan, rawat inap rumah sakit di AS telah meningkat menjadi 14 persen atau 10.320 kasus dalam seminggu. Meski begitu, jumlah tersebut masih tergolong kecil dibandingkan pada puncak pandemi sebelumnya, seperti varian Omicron hingga Delta di negara itu.
