Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pengamat Nilai Kebijakan Tidak Tepat

Editor:

Acu juga menduga, saat ini 80 persen BBM subsidi masih dinikmati oleh sekitar 60 persen warga mampu.

“Padahal kan kita tau pembatasan BBM bersubsidi yang sekarang lagi diuji coba dengan aplikasi MyPertamina itu karena ada 20 persen kelompok masyarakat yang sebelumnya mengonsumsi pertamax itu beralih ke pertalite, karena harga pertamax yang terlalu tinggi,” ungkapnya.

“Dan ada konsumen yang membeli pertamax, sekitar 20-30 persen, migrasi ke pertalite. Jadi menurut saya tidak tepat sebenarnya (kenaikan harga pertamax),” sambungnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mempersempit perbedaan harga antara BBM bersubsidi dengan nonsubsidi, demi menciptakan pemerataan konsumsi BBM dan menghindari potensi terjadinya kelangkaan di salah satu jenis BBM.

Dia juga meminta pemerintah untuk mengkaji ulang keputusan kenaikan harga tiga jenis BBM nonsubsidi ini, demi menjaga kestabilan konsumsi bahan bakar di masyarakat.

“Menurut saya kombinasi itu penting, jangan hanya menggiring ke satu jenis BBM saja, nantinya akan berujung kelangkaan. Pertimbangannya itu perlu dilihat dari migrasi mengkonsumsi bbm bersubsidi, juga rentang harga antara BBM subsidi dengan nonsubsidi,” ujar Acu.

“Jadi saya melihat kebijakan ini semacam kebijakan pemadam kebakaran, istilah saya itu jurus mabuk, seperti orang kalap gitu,” tandasnya.*** (Arv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.