NGAMPRAH– Sejumlah warga di Kabupaten Bandung Barat memanfaatkan peluang bisnis seperti membuat produk cobek untuk memenuhi pasar tradisional dan bahkan tembus pasar modern.
Seiring dengan perkembangan zaman, produksi cobek dan uleukan ini divariasikan dengan berbagai karakter. Yuli,35, dan Ius Rustiawan,37, suami istri yang berhasil memproduksi cobek berkarakter mampu menghasilkan peluang ekonomi yang menjanjikan.
“Ada coet (cobek) yang berbentuk hati, ada yang berbentuk doraemon dan bentuk-bentuk lainnya yang lucu-lucu, ini juga sebagai bentuk kami untuk menarik para pembeli dengan menampilkan hal berbeda,” kata Yuli, saat dijumpai di Ngamprah baru-baru ini.
Baca Juga:Manfaatkan Limbah Kayu dari Pabril Meubel Jadi Nilai EkonomiCapaian Sentra Vaksinasi BPBD Jabar di Kota Cimahi Lampaui Target
Dia membuat cobek berkarakter tersebut sejak dua tahun lalu. Mulanya hanya sekedar iseng saja, namun karena banyak pesanan akhirnya berkelanjutan hingga sekarang.
“Tadinya sih, cuma seru-seruan saja supaya lebih menarik tampilannya. Tapi ternyata banyak juga peminatnya, kita produksi juga lebih banyak,” ujarnya.
Untuk memproduksi cobek berkarakter, sebut dia, memakan waktu yang cukup lama dibanding cobek biasa (berbentuk bulat).
Selain dipahat yang memerlukan keahlian tukangnya, prosesnya dibantu dengan menggunakan peralatan mesin. Hingga kini, dia dibantu 30 orang karyawan untuk mengerjakan berbagai pesanan.
Omzetnya sendiri cukup lumayan, setiap minggu bisa menghasilkan Rp 30 juta.
Mengingat proses produksinya lama dan memerlukan keahlian, maka harga cobek berkarakter lebih mahal dari cobek biasa. “Kalau harga sih variatif. Ada yang Rp 75 ribu, Rp 125 ribu atau Rp 250 ribu. Tergantung besar kecilnya barang,” tandasnya. (drx)
