Rambu-Rambu Lalu Lintas Berpuasa

Drs. H Karsidi Diningrat, M.Ag.
Drs. H Karsidi Diningrat, M.Ag.
0 Komentar

Rambu meninggalkan maksiat, selamanya menjadi kewajiban atas orang yang berpuasa dan orang yang tidak berpuasa.

Hanya saja, orang yang berpuasa lebih wajib memelihara diri, lebih dituntut dan dikuatkan. Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Puasa adalah tameng (perisai), maka apabila seseorang kamu menjalani hari puasanya, hendaklah ia tidak berkata kotor, tidak berbuat jahat, dan jangan bodoh (terhadap sesuatu hukum), jika seseorang mencercanya atau mengajak berkelahi, hendaklah ia mengatakan. ‘Sesungguhnya saya ini sedang berpuasa’.

Di antara rambu puasa yang lainnya adalah, hendaklah kita yang berpuasa tidak terlalu banyak tidur di waktu siang dan terlampau banyak makan di waktu malam. Hendaklah kita bersahaja dalam hal perkara itu, agar bisa merasakan pedihnya lapar dan dahaga.

Baca Juga:Perseteruan Vaksin Nusantara Ungkap Siapa Mafia VaksinSE Acuan Larangan Mudik Segera Diterbitkan

Dengan demikian, kelak jiwanya akan terdidik, nafsu syahwatnya terkendali dan batinnya bercahaya. Di situlah letak rahasia dan tujuan puasa yang sesungguhnya.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang paling kenyang makan di dunia akan menjadi paling lama lapar pada hari kiamat.” (HR. Al-Hakim).

Juga rambu selanjutnya, hendaklah kita meninggalkan segala rupa kemewahan dan memperbanyak makanan dan minuman yang lezat dan membangkitkan selera. Sekurang-kurangnya, kita tidak melebihkan kebiasaannya pada bulan Ramadhan dalam memenuhi selera, bahkan sama dengan bulan-bulan yang lain. Itulah sekurang-kurangnya yang layak dilakukan.

Jika tidak, maka dalam mendidik jiwa dengan menjauhi segala kehendak hawa nafsu akan meninggalkan kesan yang baik dalam membekalkan cahaya nurani di hati. Dan hal ini hanya bisa dituntut khususnya pada bulan Ramadhan saja.

Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya termasuk pemborosan bila kamu makan apa saja yang kamu bernafsu memakannya.” (HR. Ibnu Maajah).

Rambu berpuasa yang lainnya lagi adalah, hendaknya tidak terlalu banyak menyibukkan diri dalam urusan dunia di bulan Ramadan.

Bahkan hendaknya diri kita membenamkan diri untuk beribadah kepada Allah sebanyak-banyaknya, dan berzikir kepada Allah sebisa-bisanya. Tidak mengusahakan sesuatu dari urusan dunia, melainkan sekedar untuk mencukupi kebutuhan diri dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya seperti, anak istri dan lainnya. Sebab, bulan Ramadan terhadap bulan-bulan lainnya berbanding sama dengan hari Jum’at terhadap hari-hari lainnya. Maka, sangat wajar bila seorang Muslim mengkhususkan hari Jum’at dan bulan Ramadhan untuk mencari bekal akhiratnya.

0 Komentar