Rambu-Rambu Lalu Lintas Berpuasa

Drs. H Karsidi Diningrat, M.Ag.
Drs. H Karsidi Diningrat, M.Ag.
0 Komentar

Oleh Drs.H. Karsidi Diningrat, M.Ag

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah, 2: 183).

Dan Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala (keridhoan) Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-Bukhari).

Setiap orang yang berpuasa mempunyai rambu-rambu (peraturan, petunjuk, peringatan, larangan). Tidak sempurna puasa itu tanpa ada rambu-rambu atau kode etik atau tata tertib.

Baca Juga:Perseteruan Vaksin Nusantara Ungkap Siapa Mafia VaksinSE Acuan Larangan Mudik Segera Diterbitkan

Di antara rambu-rambu berpuasa yang terpenting adalah, memelihara lidah untuk tidak berdusta, mencaci orang lain, mencampuri urusan orang lain, mengekang mata dan telinga dari mendengar atau melihat sesuatu yang tidak halal, dan dipandang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda, “Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya.” (HR. Bukhari).

Rambu selanjutnya, hendaklah kita menahan perut dari memakan makanan yang haram, atau syubhat, terutama ketika sedang berbuka puasa, kita wajib berusaha mencari yang halal menjadi makanan berbuka puasa.

Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba melontarkan sesuap makanan yang haram ke dalam perutnya maka tidak akan diterima amal kebaikannya selama empat puluh hari. Siapapun yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka api neraka lebih layak membakarnya.” (HR. Athabrani).

Rambu yang lainnya kita yang berpuasa juga harus memelihara seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan dosa, dan menjauhkannya dari segala urusan yang tidak menyangkut diri kita. Dengan demikian, sempurna dan bersihlah puasa kita.

Betapa banyak dari kita yang berpuasa, bersusah payah disebabkan lapar dan dahaga, tetapi membiarkan anggota tubuh kita terjerumus ke dalam maksiat. Karena itu rusaklah puasanya, dan sia-sialah susah payahnya.

Dalam hal ini Rasulullah Saw. bersabda, “ Mungkin hasil yang diraih seorang shoim (yang berpuasa hanya lapar dan haus, dan mungkin hasil yang dicapai seorang yang shalat malam (Qiyamul Lail) hanyalah terjaga.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim). Dan dalam hadits yang lain dinyatakan, “Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat sesuatu dari puasanya selain lapar dan dahaga.”

0 Komentar