SOREANG – Selama melakukan survey secara daring (online), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung Agus Hartadi mengaku, tingkat partisipasi warga Kab, Bandung untuk mengikuti survey masih rendah. Melihat kondisi ini, pihaknya berencana akan kembali melakukan survey dengan cara dor to dor,
’’BPS telah melakukan Sensus Penduduk 2020 (SP2020) secara online pada Februari sampai Mei 2020. BPS akan melakukan sensus secara tatap muka atau dor to dor sejak 1 September hingga 15 September 2020,’’kata Agus kepada Jabar Ekspres, Senin (7/9)
Menurutnya, pada survey daring BPS sebetulnya menargetkan tingkat partisipasi mencapai 30 persen, namun karena beberapa kendala seperti kesadaran penduduk itu sendiri, makanya angkanya hanya mencapai 23 persen saja.
Baca Juga:Waduh! 117 ASN Pemkot Bandung Terkonfirmasi Positif Covid-19Madu Maribaya Laris Manis Diburu Pembeli Selama Pandemi Covid-19
Agus mengakui, untuk melaksanakan survey secara langsung ada sejumlah kendala. Di antaranya survey dilakukan di masa pandemic Covid-19 dan anggaran sangat terbatas.
Dia memaparkan, pada pelaksanaan SP online, ada sekitar 900.000 penduduk dari total 3,7 juta penduduk Kabupaten Bandung yang sudah melaksanakannya.
Pada SP tatap muka ini, katanya, total petugas yang diturunkan sebanyak 2541 orang. Para petugas tersebut sebelum nya sudah menjalani rapid test untuk memastikan tidak ada petugas yang terpapar Covid-19.
Mereka bertugas mendata ke rumah-rumah warga dengan dilengkapi alat pelindung diri (APD) lengkap, yakni masker, face shield, sarung tangan, dan hand sanitizer. Sehingga, pada saat pelaksanaan itu petugas tidak perlu masuk kerumah, cukup di luar rumah saja, karena pertanyaannya pun kan sedikit dan sederhana,” jelasnya.
Lebih lanjut lagi Agung menerangkan, sebagai pengamanan lain, petugas SP2020 juga dilengkapi dengan rompi yang bertuliskan petugas sensus dengan logo BPS dan logo SP, lalu dilengkapi juga dengan tanda pengenal yang berbarcode. Hal itu sebagai bentuk keamanan bagi penduduk, karena beberapa waktu lalu sempat terjadi penipuan dengan modus mengaku sebagai petugas sensus.
“Jadi bagi warga yang ragu, bisa menscan tanda pengenal petugas yang berbarcode tersebut, nantinya akan muncul kode petugas, nama petugas, wilayah tugas, dan fotonya, ya kalau tidak sesuai berarti memang bukan petugas,” tandasnya. (yul/yan)
