Atau mungkin tidak akan pernah disiarkan.
Tergantung.
”Tergantung apa?” tanyanya.
“Tergantung Ensterna bisa beroperasi atau tidak,” jawab saya sambil bercanda.
PT Ensterna Indonesia adalah perusahaan baru. Yudiu-lah Dirutnya. Itu bergerak di bidang irradiasi. Atau sterilisasi. Untuk produk apa saja. Bisa buah, alat kesehatan, pakaian, sampai makanan dan minuman.
Investasinya hampir Rp 200 miliar.
Tiba-tiba ada Covid-19. Terhambat luar biasa –mestinya. Tenaga ahli dari luar negeri tidak bisa ke Indonesia. Padahal mesin-mesin sudah tiba di lokasi pabrik: di kompleks industri Tambak Langon Surabaya.
Saya tidak paham cara kerja mesin itu. Pun setelah dijelaskan. Sebagai ”anak TK” di bidang itu saya punya pemahaman sendiri: itulah mesin pembuat petir –sekaligus penipu petir.
Lihat sendiri saja videonya nanti –jalau jadi disiarkan.
Baca Juga:ePaper Jabar Ekspres Edisi 24 Juni 2020Pemkab Siapkan Lahan untuk Korban PHK
Syarat agar video itu disiarkan adalah: kalau pabrik Ensterna sudah beroperasi.
Mestinya seminggu lagi: 4 Juli 2020 –bersamaan dengan hari ulang tahun Amerika Serikat: negeri yang membuatnya bisa beli sepatu pertama. Juga negeri yang membuatnya menjadi doktor ahli nuklir.
Tapi ada Covid-19. Para ahli luar negeri tidak bisa datang.
”Anda kan lebih ahli dari mereka,” kata saya.
Betul. Tapi mesin ini tiba tanpa petunjuk apa-apa. Ada rahasia pabrik mesin di situ. Petunjuk itu baru akan diberikan kelak –setelah mesin diserahterimakan dalam kondisi beroperasi.
Tapi kapan Covid-19 ini berakhir? Akankah investasi begitu besar harus kalah dari Covid? Bagaimana kewajiban terhadap banknya nanti?
Yudiu pun membentuk tim teknologi. Anak-anak muda dari Jogja ia kerahkan: yang lulusan teknik nuklir UGM. Atau yang semester akhir.
Merekalah yang mengambil alih peran tenaga asing.
Mesin pun dibuka. Sangat banyak software di situ yang harus dipelajari. Celaka: semua software dikunci dengan password.
Ada yang akhirnya bisa menemukan rahasia itu. Begitu dibuka ketemu password lagi. Yang berikutnya lagi. Password dikunci dengan password.
Baca Juga:ASN Pemkot Wajib BerinovasiKebijakan New Normal Menyesuaikan Kebijakan Protokol Kesehatan
Satu persatu kesulitan itu terpecahkan. Saat saya menulis naskah ini tinggal satu password lagi yang sedang dikeroyok anak-anak muda itu. Yang umurnya 22, 23 dan yang paling tua 27 tahun.
