Cross Way

Dis'way
Dis'way
0 Komentar

Salut. Itulah kata yang selalu saya ucapkan. Setiap kali menuju bandara Soekarno-Hatta.

Setelah Anda melewati gerbang tol terakhir sudah ditentukan: ada
jembatan baru di atas mobil Anda. Tepatnya setelah kolam air depan Hotel
Sheraton itu.

Tanpa bertanya, saya pun tahu jembatan apakah itu. Itulah
jalan khusus pesawat terbang. Lebar sekali bukan?

Baca Juga:ePaper Jabar Ekspres Edisi 13 Februari 2020Rumahnya Ambruk Akibat Longsor, Abas Bingung Mau Tinggal Dimana

Tapi sampai kemarin sakit saya belum pernah melihat ada pesawat
yang berjalan melintas di atas jembatan di atas mobil saya.

Mungkin lebih baik lagi tidak ada pesawat yang
melintas. Atau mungkin saja memang belum difungsikan.

Saya menerima pemberitaan di media: jalan khusus yang sudah
diresmikan Presiden Jokowi awal Februari lalu.

Itulah jalan untuk menghubungkan ujung timur No. 1 dan ujung
timur landasan No. 2 Bandara Cengkareng, Jakarta.

Jalan serupa telah ada untuk menghubungkan ujung barat no. 1
dengan ujung barat no. 2. Pembangunan ujung barat dilakukan bersamaan dengan
pembuatan landasan itu sendiri.

Kenapa waktu itu tidak sekalian dibangun juga yang ujung timur?

Saya tidak tahu. Kemungkinan besar untuk menghemat
biaya. Toh waktu itu memang belum layak. Bandara Cengkareng masih
sepi.

Lama-lama bandara terlalu ramai. Lion Air saja menambah
lebih dari 200 pesawat. Penerbangan dari luar negeri juga kian
banyak. 

Baca Juga:Diduga Jadi Biangkerok Banjir dan Macet, Wagub Sidak PT KahatexGara-gara Terlambat Masuk, Oknum Guru SMA di Bekasi Diduga Aniaya Siswa

Sampailah pada suatu saat: antrean untuk terbang di Bandara
Cengkareng lama sekali.

Pernah sampai ada 10 pesawat antri di taxiway untuk
menuju ujung landasan. 

Saya pernah tertidur saat pesawat mulai meninggalkan
garbarata. Lalu terbangun. Saya kira pesawat sudah mendarat di
Surabaya. 

Ternyata pesawat belum juga terbang. Masih di antrean tiga.

Kesimpulan waktu itu: harus dibangun landasan
ke-3. Kejengkelan penumpang pesawat sudah luar biasa.

Tapi aku selalu tidak setuju. Biayanya terlalu
besar. Sekitar Rp 50 triliun.

Mengapa 

Karena harus membeli lahan baru. Luasnya sekitar 700
hektare.

Mengapa harus membeli lahan tambahan?

Lahan yang ada tidak cukup. Jika landasan No.3 dipaksakan,

0 Komentar