Kemendikbud Sepakat Rombak SMK

Kemendikbud Sepakat Rombak SMK
0 Komentar

BANDUNG – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) setuju dengan wacana Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil untuk melakukan perombakan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jabar. Perombakan ini demi efisiensi peningkatan kualitas SMK.

“Kalau yang kecil-kecil memang sebaiknya dimerger toh
kan ada SMK yang jumlah siswanya berapa gitu ya. Itu ya lebih baik dimerger.
Jangan memaksakan,” kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Kemendikbud, Supriano di Jakarta, Rabu, (24/7).

Banyaknya jumlah SMK yang tak sebanding dengan kualitas
lulusannya. Ditambah, satu SMK hanya memiliki jumlah peserta didik yang minim
tanpa memperhatikan aspek kompetensi dan kualitas lulusannya.

Baca Juga:PDIP Sambut Positif dengan Hadirnya Poros Baru di DPRD10 Heritage di Cimahi Lolos Verifikasi Cagar Budaya

“Ada jurusan yang memang sudah tidak pas. Kemudian
kalau SMK kecil jangan hanya meluluskan siswanya, tapi tidak mempunyai
kompetensi,” ujar Supriano.

Kompetensi guru di SMK pun perlu perhatian khusus. Masih
banyak SMK yang minim guru dengan kualitas dan kompetensi khusus. Kebijakan
perombakan diiringi dengan perbaikan dan peningkatan kualitas guru.

“Misalnya, guru ekonomi, dia juga bisa mengajar di
rumpunnya IPS apa saja. Makanya, ini pelan-pelan kompetensi guru SMK kita
perbaiki,” tuturnya.

Sementara itu untuk mengevaluasi SMK di Jabar Gubernur Jawa
Barat Ridwan Kamil menjalin kerja sama dengan perusahaan pendidikan
multinasional Inggris yang fokus pada pendidikan kejuruan, Pearson.

“Jadi, Inggris ini punya sistem pendidikan vokasi yang bisa
di-copy di beberapa negara. Mereka menggunakan sistem yang disebut TVET (Technical
Vocational Education and Training),” kata Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil usai
menggelar pertemuan dengan sejumlah konsultan pendidikan Pearson di London,
Inggris, Selasa (23/7).

Menurut Emil –demikian Ridwan Kamil disapa–, para konsultan
pendidikan kejuruan dari Pearson rutin menggelar pertemuan dengan kalangan
industri. Pertemuan tersebut, kata dia, membahas soal keahlian terbaru yang
dibutuhkan industri.

“Drone saja ada SMK-nya di Inggris. Satu-satunya di dunia
yang punya SMK drone di sini,” ucapnya.

Baca Juga:Anggaran Pilkada 2020 Belum Ketuk PaluPertemuan Prabowo-Megawati Harus Disyukuri

Situasi tersebut, kata Emil, berbeda dengan SMK di
Indonesia. Menurutnya, ada banyak jurusan SMK yang tidak memperhatikan
kebutuhan industri.

“Jangan-jangan kurikulumnya tidak nyambung dengan
kebutuhan industri. Ini yang akan kita evaluasi. Kita minta bantuan mereka

0 Komentar