“Kopi dari Klasik Beans dibawa oleh barista-barista negara lain untuk berkompetisi di level internasional. Koperasi kami ini yang pertama kali mengantongi Surat Keterangan Asal (SKA) guna mengekspor kopi identitas Jawa Barat,” terangnya.
Deni menjelaskan, koperasi tersebut, dibentuk pada tahun 2009. Kegiatannya, fokus pada konservasi dan reboisasi setelah pembalakan liar yang menyebabkan tanah longsor Gunung Mandalawangi tahun 2004. Berawal dari delapan orang petani kopi, kini menjadi 516 orang, mereka membantu mencegah erosi dan tanah longsor, melindungi sumber air, dan habitat satwa liar.
Upaya tersebut mencapai tonggak utama, saat The Rainforest Alliance memberikan sertifikasi pada awal 2019. Tentunya raihan penghargaan ini menjadi angin segar bagi industri kopi Indonesia, dan menjadi wajah perkebunan kopi rakyat yang berwawasan lingkungan untuk masa depan.
Baca Juga:Jadwal PPDB Resmi DirilisKunjungan ke Objek Wisata Alami Penurunan 50 Persen
“Kini kami yakin bahwa alam yang kami rawat, akan memberikan kehidupan bagi para petani-petani kopi Paguyuban Tani Sunda Hejo, yang telah menjadi bagian dari Koperasi Klasik Beans,” paparnya.
Sementara itu, Dewan Penasehat Koperasi Klasik Beans, Eko Purnomowidi mengucapkan terimakasih kepada The Rainforest Alliance. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus berupaya menyelamatkan lingkungan.
”Mari kita bersama-sama menanam pohon. Selamatkan lingkungan, selamatkan jiwa manusia,” tutup Eko (yul/rus)
