Perilaku Konsumtif Picu Inflasi

Perilaku Konsumtif Picu Inflasi
HARGA MULAI NAIK: Pedagang menggunakan pakaian adat di Pasar Cihapit, Jalan Cihapit, Kota Bandung, Rabu (13/1). Dengan diterapkannya program "Rebo Nyunda" serta semakin bersihnya pasar Cihapit diharapkan dapat menarik minat masyarakat untuk berbelanja di pasar tersebut.
0 Komentar

“Nah, kelompok sandang menyumbang inflasi sebesar 0,15 persen, kelompok kese­hatan 0,25 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,03 persen dan kelompok transpor, komuni­kasi dan jasa keuangan sebe­sar 0,28 persen,” paparnya.

Sebelumnya, sambung dia, inflasi tahun kalender Janu­ari-April 2019 sebesar 0,80 persen. Sementara, inflasi tahunan sebesar 2,83 persen (year on year/yoy).

“Secara umum di April men­galami kenaikan harga,” kata dia.

Suharyanto menyebut, in­flasi didapatkan dari pan­tauan BPS di 82 kota. 77 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Medan sebesar 1,30 persen dengan IHK sebesar 140,66 dan te­rendah terjadi di Pare-pare sebesar 0,03 persen dengan IHK sebesar 129,45.

Baca Juga:Target Rekapitulasi PPK MelencengPetugas Siap Tegakkan Perda

“Sementara deflasi terting­gi terjadi di Manado sebesar 1,27 persen dengan IHK se­besar 131,74 dan terendah terjadi di Maumere sebesar 0,04 persen dengan IHK se­besar 126,03,” pungkasnya.

Di tempat sama, Kepala BI Jabar Doni P Joewono menga­takan, ulama memiliki posisi penting ikut menjaga stabilitas harga sembako saat Ramadhan. Mereka bisa menyampaikan seruan kepada pedagang, pe­tani, pengumpul, dan pengu­saha lainnya untuk bersama-sama menjaga inflasi.

”Ulama bisa ikut menyerukan kepada semua umat Islam, ba­hwa sekarang saatnya kita bera­mal dan bersedekah kepada umat lainnya. Bentuknya bisa melalui diskon. Karena kan permintaan barangnya tinggi,” kata Doni di Kantor BI Jabar.

Dia mencontohkan, di bebe­rapa negara, Ramadhan dija­dikan umat untuk bersedekah. Para pedagang justru melaku­kan diskon harga saat Ramad­han. Bahkan, mereka meny­ediakan makanan di masjid secara gratis untuk menjamin kebutuhan buka dan sahur.

”Kami coba berbagai macam cara. Karena kalau ngomong­in inflasi, kita lihat keterse­diaan harga, pasokan, kelan­caran distribusi, dan komu­nikasi. Itu berpengaruh ter­hadap inflasi. Sekarang in­flasi sudah 0,41, kami berha­rap inflasi Ramadhan tidak lebih dari 0,5. Karena kalau di atas itu sudah kategori me­rah,” beber dia.

Dia mengakui, beberapa hal yang perlu diantisipasi untuk menekan kenaikan harga (in­flasi) yaitu ketersediaan pa­sokan dan kelancaran distri­busi. Berapa kota seperti Bandung telah menyatakan kesiapannya, tinggal bagai­mana distribusi tidak ter­ganggu sehingga suplai ke konsumen mencukupi.

0 Komentar