Tes yang dijalani Regi dan Gustiar hanyalah salah satu di antara puluhan jam sesi simulasi yang harus dilakoni calon pilot di ATC, Bandara Mas. ATC memiliki total sembilan simulator.
Perinciannya, 5 simulator pesawat Boeing 737 Next Generation Family (NG), 2 simulator pesawat ATR 72, dan 2 simulator Airbus A320. Itu menjadikan ATC pusat pelatihan penerbangan dengan fasilitas terlengkap di Indonesia.
Direktur ATC Dibyo Soesilo sempat mengajak awak media berkeliling. Mengunjungi 30 hektare fasilitas pusat pelatihan dan perumahan karyawan Lion City di Balaraja, Tangerang, itu.
Baca Juga:Poster Raja Jokowi Beredar di Soreang23 Kabupaten/Kota Tunda Pemutakhiran Data
Di kota mini tersebut berbagai fasilitas pelatihan dibangun. Mulai untuk pramugari, karyawan, mekanik, sampai pembuatan makanan. Sementara itu, di Bandara Mas, dekat Soekarno-Hatta, ada fasilitas khusus training pilot.
Dibyo mengungkapkan bahwa pelatihan di ATC telah memiliki approval standard. Baik dari pemerintah Indonesia, Malaysia, maupun otoritas penerbangan internasional. Misalnya, Federal Aviation Administration (FAA/Amerika Serikat) dan European Aviation Safety Agency (EASA/Eropa).
Untuk bisa menjadi pilot dan benar-benar menerbangkan pesawat berpenumpang, seorang calon pilot lulusan sekolah penerbangan harus melewati setidaknya tiga tahap. Pertama, advanced aircraft bridging course. Itu untuk membiasakan pilot dari menerbangkan pesawat baling-baling berkecepatan rendah ke pesawat jet berkecepatan tinggi.
Setelah itu, mereka akan melewati tes pengetahuan umum penerbangan. Di antaranya, navigasi, lalu lintas, dan hukum udara. Lalu, menjalani tes untuk mendapatkan type certificate yang meliputi tes berbasis komputer (CBT), sebelum kemudian beranjak ke simulator.
Mulai simulator statis tak bergerak (fixed based simulator/FBS) hingga simulator bergerak. Yang dilengkapi kemampuan menirukan pergerakan pesawat alias full flight simulator (FBS).
”Ini ujiannya negara. Artinya, bukan pihak ATC yang menguji. Tapi pemerintah,” ungkap Dibyo. Seluruh proses memakan waktu empat bulan. Setelah fase itu selesai pun, siswa belum jadi pilot. Untuk 100 jam selanjutnya, para pemegang type rating akan dipersilakan terbang sebagai pilot peninjau di kursi belakang kokpit.
