”Saya saja merasa sangat berat menghadapi situasi itu, saya membayangkan bagaimana ibunya. Feeling seorang ibu kan kuat terhadap anaknya,” imbuh Anis.
Anis kemudian menuturkan saat dirinya bulan lalu mengunjungi ibu Tuti, Iti Sarniti, di Majalengka. Saat tiba di rumah di kediaman Iti, matanya langsung terfokus pada sebuah foto yang dibingkai dan dipajang di dinding ruang tamu.
Di foto itu terlihat Tuti dan ibunya saling berpelukan. Nampak jelas mata bu Iti dan Tuti sembab dan basah. Hidung Titi tampang merah. Tak terbayangkan suasana haru di balik foto itu.
Baca Juga:Bawa Misi Seni Sunda MenduniaMaksimalkan Enam Laga Tersisa
Foto itu menjadi penanda pertemuan terakhir keduanya, lima bulan lalu tatkala sang ibu bersama Migrant Care dan dan pejabat Kementerian Luar Negeri mengunjungi Tuti di penjara Saudi.
Ini merupakan kali ketiga Iti mengunjungi anaknya, setelah sebelumnya dilakukan pada 2010 dan 2012.
Kepada Anis, Iti menuturkan bahwa kunjungan tersebut paling berkesan karena bisa bercengkerama langsung dengan anaknya selama 1,5 jam tanda dibatasi sekat kaca. Pada kunjungan sebelumnya, pertemuan dibatasi hanya 10 menit.
”Itu kunjungan di mana bisa bertemu langsung, berpelukan dan berfoto, kalau kunjungan sebelumnya kan hanya dari kaca,” papar Anis.
Tak hanya itu, lantaran rindu dengan kampung halaman, Tuti minta dibawakan daster dan cemilan dari kampung halamannya. ”Mbak Tuti itu kan memang meminta ibunya membawakan dua daster batik, kemudian cemilan dari kampung halaman di Majalengka, sehingga dibawakan kripik singkong, rengginang dan sebagainya,” kata dia.
Bawaan cemilan itu langsung dinikmati. ”Pertemuan 1,5 jam itu digunakan untuk mengobrol santai dan makan,” terangnya,
Anis kemudian melanjutkan kisah pertemuannya dengan Iti pada September lalu. Dalam pertemuan tersebut, Anis mengapresiasi perjuangan sang ibu selama delapan tahun mengawal proses hukum.
Baca Juga:e-Paper Jabar Ekspres Edisi 2 November 2018Rujukan Online, Upaya Terbaik Tingkatkan Layanan
Gunjingan tetangga tentang anaknya, acap kali membuat Iti enggan bergaul dengan lingkungan sekitar dan memilih berdiam di rumah. ”Keluar rumah juga tidak berani karena masyarakat selalu bertanya, sehingga ke pasar pun dihindari karena stigma masyarakat memang luar biasa,” ungkap Anis.
Beban Iti semakin berat saat ayah Tuti meninggal dunia tahun lalu karena sakit komplikasi dan juga beban pikiran tentang kasus Tuti. Dalam pertemuan tersebut, lajut Anis, sang ibu sempat menerima telepon dari putrinya dari penjara di Arab Saudi.
