Di Lebak, selain diwujudkan dalam bentuk museum, Multatuli, si pengarang Max Havelaar, juga diabadikan menjadi nama jalan, alun-alun, dan aula bupati. Sayang, bekas rumah dinasnya tak terawat.
M. HILMI SETIAWAN, Lebak
ADA banyak Multatuli di Rangkasbitung. Dia ada di alun-alun, di jalan, juga di aula kantor bupati. Dan, kini Multatuli bisa pula ditemui di sebuah museum di sebelah alun-alun ibu kota Kabupaten Lebak, Banten, tersebut.
”Target kami, museum bisa dibuka pada 2 Desember mendatang. Bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Lebak yang terhitung sejak 2 Desember 1828,” kata Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lebak, Banten, Ubaidilah Muchtar.
Ya, Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak pada abad ke-19, di masa penjajahan Belanda. Dialah penulis Max Havelaar, novel legendaris yang berusia lebih dari 1,5 abad. Karya sastra berlatar belakang Lebak itu bertutur tentang kekejaman akibat penerapan sistem tanam paksa oleh Belanda. Sistem yang akhirnya menyebabkan ribuan penduduk pribumi dijerat kemiskinan, kelaparan, dan menderita.
Judul asli novel yang kali pertama diterbitkan pada 1860 tersebut adalah Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij (bahasa Indonesia: Max Havelaar, atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda).
Koleksi paling spesial nanti adalah beberapa benda yang didatangkan langsung dari Museum Multatuli yang berada di Amsterdam, Belanda. Misalnya kepingan ubin rumah Multatuli, koleksi buku-buku, dan novel Max Havelaar kuno yang dicetak pada 1886 dengan bahasa Belanda.
Saat ini sejumlah barang itu sedang diproses untuk dikirim ke Indonesia. Ubai -sapaan akrab Ubaidilah- berharap museum tersebut menambah cinta generasi muda Lebak saat ini kepada sosok Multatuli.
Jejak Douwes Dekker di Lebak sebenarnya masih berbentuk rumah yang pernah ditinggali. Letaknya di bagian belakang kompleks RSUD Adjidarmo, Lebak. Sekitar 200 meter saja dari Museum Multatuli.
Warga sekitar juga sangat mengenal tempat bersejarah itu. Sayang, kondisinya tidak terawat. Sejumlah ruangan dahulu dijadikan gudang alat-alat kesehatan yang rusak. Meski belakangan mulai dibersihkan.
”Mudah-mudahan ke depan pemerintah bisa merawat (bekas rumah Dekker itu, Red) sehingga bisa menjadi tetenger dan pengingat sejarah Lebak,” kata Muhamad Rohman, warga Lebak.