”Zaman dulu daluang punya peran yang penting sebagai alat untuk menulis, sebagai bahan pakaian. Tapi sekarang dengan kemajuan zaman dan teknologi hampir ditinggalkan,” ujar Ida Hernida, kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, saat mengunjungi acara, beberapa waktu lalu.
Ida mengatakan, daluang merupakan warisan tradisi yang unik dan perlu dilindungi dan perlu dimanfaatkan kembali sesuai dengan kebutuhan saat ini. Dia menceritakan, keberadaan daluang atau yang di wilayah lain disebut fuya atau tapa memiliki peran yang sangat sentral dalam sejarah kemajuan literasi dan industri tekstil dunia. Sebelum mengenal teknik tenun masyarakat membuat pakaian dari kain kulit kayu yang dibuat dengan cara dipukul menggunakan pemukul kayu, atau batu.
Bukti keberadaannya diperkuat data etnografi, karena sampai saat ini beberapa suku pedalaman dan kelompok masyarakat tradisional masih membuat kain dan kertas dari kulit kayu dengan peralatan yang sama. ”Makanya kenapa museum ini mengambil temanya daluang untuk memperkenalkan pada generasi muda, mengenai sejarah warisan budaya leluhur kita,” kata dia.
Baca Juga:Donasi dari Kota Bandung Mencapai Rp 500 JutaJabar Harus Bebas dari Orang Gila
Koleksi yang dipamerkan seperti, naskah kuno, gambar, pakaian, hiasan dinding, asesoris, alat pembuatan daluang, serta Alquran kuno yang dibuat sekitar abad ke-17.
”Kami meminjam dulu benda-benda yang terbuat dari daluang ini, syukur-syukur bisa menjadi milik kita untuk menambah koleksi benda bersejarah,” katanya. (pan/ign)
