jabarekspres.com, SOREANG – 35 Kepala Keluarga warga Legokkole Desa Rawabogo Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung, yang merupakan warga relokasi dari Kampung Legokkiara mengeluhkan tak adanya fasilitas air bersih serta listrik. Untuk memenuhi kebutuhan air, mereka terpaksa harus mengambil dari kali yang berjarak sekitar 500 meter dari pemukiman dan saat malam mereka harus menggunakan lilin untuk penerangan.
Menurut Dani , (45) salah satu warga Kampung Legokkole, mereka mulai menempati kampung tersebut sekitar sebulan lalu. Keputusan untuk pindah ke tempat itu diambil setelah pemilik lahan di hunian sementara (huntara) meminta mereka segera mengsongkan lahan tersebut. Padahal sebenarnya, pemukiman yang disiapkan oleh pemerintah di Kampung Legokkole itu belum dilengkapi dengan listrik dan air bersih.
“Untuk keperluan air bersih sebagian besar warga relokasi ini mengambil ke kali di bawah, yah lumayan jauh dan melelahkan. Disini juga belum ada listrik, kalau malam yah pakai lilin. Setiap malam rata rata habis 4 lilin, biaya untuk beli lilin juga lumayan merepotkan kami yang hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh tani,” jelasnya saat ditemui dirumahnya Jumat, (7/7).
Baca Juga:Dinkes Cimahi Gelar Khitanan MassalPanic Button akan Disosialisasikan Lagi
Menurut Nana, dirinya dan warga lain kerasan tinggal di kampung relokasi tersebut. Namun sayangnya, karena belum ada listrik dan air bersih, membuat sebagian warga lainnya enggan menempatinya. Sehingga, dari 35 unit rumah, baru delapan rumah yang telah ditempati, sedangkan sisanya ada yang masih tinggal di rumah lama dan ada juga yang masih menumpang di rumah sanak saudaranya.
“Ya, mau diisi bagaimana kalau tidak ada air dan listrik, saya sekeluarga juga terpaksa mengambil air dari kali. Terus untuk listrik baru sepekan ini saya dan beberapa rumah lainnya, menyalurkan listrik dari salah satu rumah di kampung lain, tapi hanya cukup untuk penerangan malam hari seadanya saja karena kalau pakai banyak juga enggak akan kuat listriknya,”akunya
Sementara Nana (60), warga Kampung Legokkole lainnya menambahkan, warga Kampung Legokkiara dan Bebedahan lainnya yang belum mau menempati rumahnya karena memang belum selesai. Bahan bangunan yang berikan oleh pemerintah seharga Rp 20 juta itu, tentu saja tak mencukupi untuk membangun rumah semi permanen ukuran 5×10 meter persegi itu. Apalagi, bantuan tersebut hanya berupa bahan bangunan saja, tanpa ada bantuan uang untuk upah pekerja bangunan.
