Pasar Lokal Berpihak ke Petani Kopi

Pasar Lokal Berpihak ke Petani Kopi
SASARAN PASAR: Hasil kopi Bandung Barat saat ini telah dilirik oleh pasar Internasional. Bahkan, harganya mencapai Rp 1 juta perkilogram. Akan tetapi, Pemda Bandung Barat akan menyasar pasar lokal.
0 Komentar

bandungekspres.co.id, NGAMPRAH – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat terus mendorong pasar lokal bagi petani kopi. Sebab, pasar lokal dinilai lebih berpihak kepada petani ketimbang di pasarkan ke luar negeri seperti eropa yang harganya lebih kecil.

”Kalau diekspor ke luar negeri, nilainya lebih kecil dan petani banyak yang rugi,” kata Kasi Pengolahan dan Pemasaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bandung Barat Firman Apriansyah kepada wartawan di Ngamprah, kemarin (18/1).

Namun untuk pasar lokal dinilai masih belum optimal. Dari sekian banyak peluang pasar lokal, seperti kafe, restoran, kedai kopi dan pasar lainnya masih banyak peluang yang belum tergarap untuk komuditas.

Baca Juga:Perbaikan Belum Ada KejelasanPemimpin Cimahi Harus Punya Inovasi

”Apalagi di Kabupaten Bandung Barat ini rata-rata masyarakatnya pecinta kopi, tentu ini memiliki peluang besar,” terangnya.

Kopi asal Bandung Barat saat ini sudah mulai dilirik oleh pasar dunia. Hal itu dibuktikan dalam ajang Specialty Coffee Asociation America (SCAA) Expo 2016 di Atlanta Amerika Serikat baru-baru ini. Di mana kopi Bandung Barat meraih peringkat kedua dari segi kualitas dan citarasa.

”Bahkan kopi Bandung Barat terpilih menjadi kopi termahal dengan nilai lelang Rp 1 juta untuk setiap kilogram,” ungkapnya.

Firman menyebutkan, sebanyak 887,7 ton biji kering kopi arabika dan 362,2 ton biji kering kopi robusta dapat di produksi untuk tahun 2016 ini. Dari kopi-kopi yang dihasilkan tersebut, ada dua sistem pemasaran berdasarkan kualitasnya. Yakni, pemasaran untuk jenis kopi specialty dan jenis kopi biasa.

”Kopi specialty ini pasarnya ke kafe-kafe, restoran, hotel dan ekspor keluar negeri, sementara untuk kopi biasa paling banyak di pasarkan kepada konsumen lokal atau pasar-pasar lokal lainnya,” terangnya.

Menurut Firman, hingga saat ini, permintaan komoditas kopi Kabupaten Bandung Barat untuk dikirim keluar negeri masih terhitung tinggi. ”Kalau pangsa pasar luar sampai sekarang juga masih banyak. Namun justru pasar lokal ini yang sekarang jadi fokus kita,” katanya.

Untuk itu, kata Firman, sejumlah cara telah dilakukannya mulai dari promosi dan bimbingin teknik pemasaran kepada sejumlah Gabungan Kelompok Petani (Gapoktan) Kopi. Selain itu, pihaknya pun berencana akan membangun satu Unit Pengolahan Hasil (UPH) kopi setiap tahunnya.

0 Komentar