Aleta dan ibu-ibu lainnya juga membangun lumbung-lumbung pangan. Upaya itu dilakukan karena mereka merasakan dampak perubahan iklim global. Antara lain cuaca yang tidak bisa diprediksi sehingga memengaruhi kegiatan pertanian warga. Warga juga mulai mengembangkan pertanian organik dan mendirikan kelompok ternak.
Dua tahun sekali warga juga menggelar Festival Ningkam Haumeni. Festival yang digelar di bawah batu Nausus itu dimaksudkan untuk mengingatkan akan perjuangan Aleta dan kawan-kawan dalam mengusir penambang batu marmer.
Aleta menegaskan, masyarakat adat Mollo telah mewariskan nilai yang begitu mulia. Yakni memperlakukan alam selayaknya memperlakukan tubuh sendiri. ”Untuk itu, saya tegaskan, kita hanya menjual apa yang bisa kita bikin. Bukan menjual apa yang diproduksi alam,” tandas Mama Aleta. (*/c9/ari/JPG/fik)
