Pernah juga saya berbicara tentang berkerudung di Jerman dan bagaimana saya dan teman-teman berislam di sini, yang ternyata mengubah pandangan saya terhadap agama saya sendiri. Tapi, lagi-lagi respons yang saya dapat hanya seputar penampilan, tepatnya –yang mereka anggap sebagai– kekurangan dari penampilan saya.
Bukankah akan terpikir dengan sendirinya ketika kita ingin berbicara sesuatu atau melontarkan isi otak kita, lalu kita bertanya kepada diri sendiri, ”Pentingkah ucapan saya?” Kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan, ”Apakah pernyataan saya akan menyinggung orang lain?” Lalu muncul pertanyaan lainnya, ”Apakah saya harus mengucapkan hal ini?”
Terutama ketika isi dari unek-unek yang ingin kita lontarkan itu tidak seberapa atau bahkan nol besar, bukankah thought process-nya akan lebih panjang lagi? Mungkin ini semua berawal dari budaya orang kita yang senang membicarakan orang lain, yang senang mencari kesalahan atau kekurangan orang lain, dan melakukan hal tersebut semata-mata hanya untuk kepuasan diri.
Baca Juga:MGO Sambut Hari Pelanggan Nasional11 Ribu Warga Histeris Sambut Dian Sastro
Lalu zaman sekarang banyak media sosial bermunculan, di mana kita bisa memberikan komentar di foto atau video orang memakai akun bodong, yang tentunya makin menggelitik kegemaran kita untuk menjelek-jelekkan orang. Sepengamatan saya, banyak orang di internet ini yang lebih berani mengutarakan pendapat yang bersifat negatif. Sebab, lewat internet mereka tidak perlu berhadapan langsung dengan orang yang dihujat.
Sejujurnya, sampai detik ini saya masih gagal memahami obsesi orang kita terhadap penampilan orang lain. Entah kalau dia cantik, gemuk, kurus, hitam, putih, alisnya terlalu tebal, alis terlalu tipis, hidung besar, telinga caplang. Apa pun bisa jadi sasaran. Apa sih yang menyebabkan berkomentar masalah wajah dan penampilan orang lain adalah hal yang lumrah untuk dilakukan?
”Ih, kok alis kamu botak sih?”; ”Hidung kamu gede juga ya.”; ”Kok ngegambar alisnya tebel banget? Jadi kayak Shinchan.”. Padahal, orang yang mereka komentari ini puas-puas aja dengan muka dia. Saya hanya bisa berharap orang kita kelak bisa lebih kritis dalam segala aspek. Kritis dalam hal-hal yang mereka lakukan dan lebih memilih mengerjakan hal yang berfaedah.
