Produksi Tembakau Bakal Menurun

tembakau
TERGANGGU: seorang petani memetik daun tembakau. Saat ini, cuaca yang tidak menentu karena curah hujan yang terus tinggi menyebabkan produktivitas tembakau menurun.
0 Komentar

bandungekspres.co.id, SOREANG – Musim hujan yang berkepanjangan pada tahun ini, bakal berimbas pada produktivitas tembakau di Kabupaten Bandung. Produksi tembakau bakal mengalami penurunan sebanyak 50 persen karena banyak petani yang beralih bercocok tanam yang lain.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, hujan diperkirakan akan sering turun sepanjang tahun ini. Sehingga sebagian para petani tidak memilih menanam tembakau, melainkan menanam padi, palawija, dan sayuran.

”Tembakau memang membutuhkan air pada awal pertumbuhannya. Namun, untuk menghasilkan kualitas terbaik, tembakau tidak boleh mendapat banyak air saat dewasa sampai menjelang panen. Kalau sering kehujanan, kualitasnya akan buruk,” kata Tisna di Kantor Pemerintah Kabupaten Bandung kemarin (30/5).

Baca Juga:Bobotoh Minta Dejan Diganti7 Raperda Diusulkan Pemprov Jabar

Tisna mengungkapkan, harga tembakau tahun ini sedang tinggi. Dalam bentuk mole atau tembakau yang telah dirajang dan dijemur, harganya mencapai Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan satu kilogram tembakau hitam dijual lebih dari Rp 50 ribu per kilogram.

Tisna menjelaskan, Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kemarau tahun ini berbarengan dengan La Nina. Gejala gangguan iklim inilah yang menyebabkan hujan akan tetap turun pada musim kemarau. Sehingga, dengan banyaknya pasokan air, termasuk di kawasan lahan tadah hujan, katanya, petani lebih memilih menanam padi atau tanaman lainnya. ”Selama ini, petani menganggap tembakau sebagai tanaman sela yang ditanam di musim kemarau, seperti palawija,” jelasnya.

Tisna mengatakan, terdapat 1.500 hektare lahan pertanian tembakau di Kabupaten Bandung, dalam sekali masa tanam. Setelah empat bulan tumbuh, tembakau di Kabupaten Bandung dapat dipanen sebanyak 6.800 ton tembakau dalam bentuk daun hijau atau 1.350 ton tembakau kering pada 2015.

”Tahun ini ada di Paseh dan Pacet yang sudah mulai menanam tembakau. Tapi diperkirakan dengan cuaca basah seperti ini, sebagian besar petani sepertinya tidak akan menanam tembakau. Tembakau biasa dihasilkan oleh 17 kecamatan, di antaranya Nagreg, Paseh, Pacet, Cicalengka, Cikancung, dan Ibun,” katanya.

Panen tembakau dari Kabupaten Bandung, tuturnya, biasa didistribusikan ke Garut dan Sumedang. Kabupaten Bandung biasa menjual dalam bentuk tembakau hijau, kering, hitam, dan mole. Bahkan tembakau hitam dijual sampai Malaysia. ”Pertanian tembakau di Kabupaten Bandung baru menggeliat setelah ada Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) beberapa tahun lalu. Sebelumnya tidak diminati atau tidak terpotret,” paparnya. (yul/fik)

0 Komentar