Kejar Pertumbuhan 5,3 Persen Pemerintah Genjot FDI

bandungekspres.co.id– Pemerintah terus mencermati perkembangan ekonomi Tiongkok karena negara Tirai Bambu ini merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Perlambatan ekonomi yang terjadi di Tiongkok berpengaruh terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 2016 yang dipatok 5,3 persen, pemerintah akan menggenjot investasi asing dan mengoptimalkan belanja negara. Salah satunya dengan mendorong foreign direct investment (FDI) masuk ke Indonesia.

“Pemerintah akan mendorong FDI untuk menggenjot pertumbuhan. Ekspor, khususnya ke Tiongkok mungkin akan turun karena perekonomian yang menurun di sana,” ujar Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro kepada pers di Gedung Pajak Jakarta, kemarin (11/1).

Dalam APBN 2016, pemerintah dan DPR sepakat menargetkan pertumbuhan ekonomi 2016 di level 5,3 persen. Tentunya target sasaran inflasi tahun ini sebesar 4,7 persen dengan patokan kurs USD rata-rata 2016 Rp 13.900 per USD. Pendapatan negara sepanjang 2016 dipatok Rp 1.822,5 triliun, dengan belanja negara sebesar Rp 2.095,7 triliun sehingga terjadi defisit sebesar Rp 273,2 triliun.

Menkeu mengungkapkan sebagai mitra utama perdagangan Indonesia, pelemahan yang terjadi di Tiongkok sedikit banyak mempengaruhi perekonomian Indonesia. “Perlambatan ekonomi di Tiongkok akan berdampak ke seluruh dunia, termasuk Indonesia karena pasarnya yang sangat besar. Kita akan cermati itu dan jadi concern kita ke depan,” katanya.

Bambang memperkirakan pemerintah Tiongkok akan terus mengeluarkan kebijakan terkait dengan perekonomian sebagai respon dari perlambatan ekonomi yang kini tengah dihadapi. Hal itu bisa dilakukan dengan melihat suku bunga acuan hingga devaluasi mata uang sehingga bisa mendorong ekspornya lebih besar guna mendorong pertumbuhan ekonomi lebih besar.

Perlambatan ekonomi Tiongkok menyebabkan bursa-bursa dunia berjatuhan, tak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam perdagangan kemarin (11/1) IHSG merosot 80,80 poin (1,77 persen) ke level 4.465,48 mengikuti kemerosotan indeks di berbagai bursa dunia. Sektor manufaktur dan industri dasar memberi kontribusi terbesar dalam penurunan indeks yang terjadi dalam perdagangan saham kemarin yang mencatatkan penjualan Rp 4,2 triliun.

Tekanan perekonomian global juga dialami pasar uang. Bank Indonesia (BI) mencatat kurs tengah sepanjang perdagangan Senin di level Rp 13.935 per USD, merosot 61 poin dibanding kurs akhir pekan lalu di level Rp 13.874 per USD. (mna/rif/tam)

Tinggalkan Balasan