Tiap Minggu Harus Kirim Satu Karya Sastra

0 Komentar

Pria asal Babat, Lamongan, Jawa Timur, tersebut bertugas mengoreksi. Jika sudah bagus, karya bisa dikirim ke penerbit. ’’Kalau untuk cerpen dan puisi, biasanya dikirim ke media massa,’’ ucap Aguk.

Dunia pria yang ayahnya meninggal sejak dirinya berusia satu tahun itu memang dibentuk kehidupan pesantren dan aktivitas baca tulis. Ketika mengenyam bangku sekolah menengah atas di MAN Babat, Aguk juga belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Ulum, Langitan, Tuban.

Aguk lalu melanjutkan kuliah di Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo. Dia berkuliah atas beasiswa Majelis Al Islamiyah. Pria yang terlahir dari keluarga sederhana itu kemudian meneruskan studi di Institut Agama Islam Al-Aqidah Jakarta. Saat ini pun dia masih menempuh pendidikan doktor (S-3) di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta.

Baca Juga:Roro Fitria Rugi Lebih dari Rp 2 MiliarHonda Gelar Aksi Pemuda Tanpa Batas di Jawa Barat

Selama di Kairo, Aguk kerap menerjemahkan karya sastra Arab. Naskah pertama yang dialihbahasakan adalah Tahta Dzilali Syams (Di Bawah Bayangan Matahari) karya Abu El-Maary. ’’Saya hidup ya dari uang hasil menerjemahkan,’’ katanya.

Sampai sekarang Aguk sudah menerjemahkan sedikitnya seratus buku. Sederet karya fiksi juga sudah dia lahirkan. Antara lain Dari Lembah Sungai Nil, Hadiah Seribu Menara, Liku Luka Kau Kaku, Penantian Perempuan, dan trilogi Risalah Para Pendusta. Ada lagi novel biografi Gus Dur, Peci Miring.

Bahkan, saat ini sudah ada 13 novel Aguk yang difilmkan. Yang terbaru novel Air Mata Tuhan. Novel itu kini diputar di bioskop dengan judul Air Mata Surga. Dewi Sandra menjadi pemeran utama dalam film tersebut.

Jejak panjang Aguk di jagat literasi itulah yang membuat banyak anak muda tertarik menimba ilmu darinya di Baitul Kilmah. Imam misalnya. Setahun setelah mendarat di Jogjakarta pada 2008 untuk kuliah di Jurusan Sejarah dan Budaya Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dia mulai mendengar Baitul Kilmah. ’’Tahu dari teman. Saya tertarik karena bisa belajar menerjemahkan dan menulis,’’ ujarnya.

Setelah nyantri, Imam akhirnya menerjemahkan buku sejak 2009. Sampai kini hasil terjemahannya sudah mencapai sepuluh pustaka. Buku pertama yang dia alih bahasakan adalah Biografi Nabi. Saat ini Imam bahkan tidak hanya menerjemahkan buku dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Tapi juga ke bahasa Inggris dan Prancis.

0 Komentar