oleh

Industri Furniture Perbesar Ekspor

[tie_list type=”minus”] Siap Bersaing dengan Negara ASEAN    [/tie_list]

SURABAYA – Industri mebel dalam negeri siap bersaing dengan tiga negara ASEAN lain yang kuat di bidang tersebut. Caranya dengan memperbesar ekspor ke berbagai negara di Eropa, Amerika dan Australia.

Chairman Olympic Group A.U. Bintoro mengatakan, industri mebel nasional memiliki peluang besar untuk menggenjot ekspor. Kondisi itu didukung dengan suplai bahan baku yang memadai. Kalaupun ada impor itu sekadar aksesori, sedangkan kebutuhan bahan baku utama tetap disuplai dari dalam negeri.

’’Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lain, ekspor mebel Indonesia berada di urutan keempat setelah Vietnam, Thailand dan Malaysia. Tahun lalu total ekspor Indonesia hanya USD 1,8 miliar. Sedangkan Vietnam bisa mencapai USD 6 miliar. Sementara kalau di dunia, Indonesia berada di posisi ke-13,’’ ujar pria yang juga menjabat Dewan Penasehat Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) belum lama ini.

Untuk mengejar ketertinggalan itu, industri dalam negeri siap memperbesar komposisi ekspor. Olympic yang selama ini banyak bermain di segmen menengah ke bawah, kini mulai menyasar kalangan atas. Menurut AU, produk premium yang baru saja dirilis tidak hanya untuk kebutuhan konsumen menengah atas dalam negeri tapi juga menyuplai pasar luar negeri.

’’Kami proyeksikan produk high end bisa berkontribusi sebesar 30 persen dan sisanya 70 persen merupakan low end. Tapi 3-4 tahun ke depan target kami bisa 50 : 50. Begitu pula untuk pasar ekspor, dari sebelumnya 80 persen ekspor dan 20 persen lokal. Kehadiran produk premium bisa menggenjot komposisi ekspor menjadi 50 persen,’’ urainya.

Selama ini, pihaknya telah mengekspor ke berbagai negara. Antara lain di Eropa dan negara-negara Asia seperti Jepang. Selain menggenjot ekspor ke negara tujuan tradisional, ia juga menyiapkan untuk masuk ke Australia. Selain itu, keputusan mengeluarkan produk premium tidak terlepas dari banyaknya furniture impor dari Tiongkok dan Taiwan yang membidik segmen menengah atas.

’’Di segmen menengah bawah persaingan antar produk lokal makin ketat. Sementara di segmen menengah atas yang peluangnya besar justru dibidik mebel impor. Apalagi sekarang daya beli masyarakat menengah bawah tertekan, makanya untuk memperbesar margin kami membidik segmen menengah atas,’’ kata dia.

Sementara itu sebagai upaya untuk mendongkrak industri dalam negeri, pihaknya menggagas pembentukan klaster industri mebel yang terintegrasi. Lahan yang disiapkan berada di Sukabumi seluas 250 hektare. Hingga saat ini sudah ada beberapa investor yang sedang melakukan penjajakan.

’’Salah satu yang kami bidik ialah investor dari Tiongkok. Mereka bisa berproduksi di dalam negeri, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumen dalam negeri, juga pembeli luar negeri. Soal upah bisa menjadi pertimbangan ketika upah tenaga kerja di Tiongkok melonjak tajam, sekarang sudah mencapai setara Rp 5 juta per bulan. Sedangkan di Sukabumi masih di bawah Rp 2 juta,’’ ujar dia.

Tapi untuk itu, perlu regulasi yang mendukung. Apalagi industri mebel termasuk dalam kategori padat karya dengan penyerapan tenaga kerja untuk industri skala besar di atas seribu orang. AU menuturkan, salah satu regulasi yang dinilai memberatkan ialah menyangkut pesangon yang tercantum dalam UU 13/2003. (res/agm/far)

Baca Juga


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga