oleh

Dendam Positif Berbuah Omzet Ratusan Juta

 Berkenal dengan Laksita Pradnya Paramitha, Owner Voria Socks

VORIA SOCKS
SILVYA MURTI UTAMI/BANDUNG EKSPRES

PENGUSAHA MUDA: Laksita menunjukkan salah satu produk kaos kakinya dengan brand Voria Socks. Bisnisnya ini belum berjalan setahun.

Diolok-olok teman, diejek, bahkan dianggap remeh sudah pernah dirasakan. Namun, berkat diperlakukan seperti itu pula, pribadi yang tangguh dan pekerja keras tercipta.

Silvya MU, Bandung Wetan.

HAL itu dialami oleh Laksita Pradnya Paramitha atau Mitha. Mojang yang baru menginjak usia 20 ini pernah diolok-olok teman satu kelas, gara-gara nilai tes IQ-nya rendah. ’’Waktu itu saya sampai nangis di kelas,’’ ujarnya kepada Bandung Ekspres di kawasan Jalan Lombok, beberapa waktu lalu.

Bahkan, ada suatu momen di mana Mitha sampai tidak kuat menahan emosi, karena seorang teman meremehkan kemampuannya di masa mendatang. Diapun bercerita, kala itu nilai IQ-nya memang sempat jadi lamunan. Pasalnya, temannya itu menganggap Mitha tidak akan sukses dengan IQ yang rendah. Mendengar olokan temannya itu, Mitha naik darah. ’’Saya sampai bangkit dari kursi, gebrak meja, terus bilang sama dia, lihat aja lima tahun ke depan, siapa yang duluan sukses,’’ jelas anak pertama dari tiga bersaudara ini.

Tak disangka, ucapannya sendiri menjadi bahan renungan. Mitha sempat bingung mau bekerja apa. Terlebih, dia berkata seperti itu di depan teman-teman sekelasnya juga. Namun, tak sampai lima tahun, Mitha sudah bisa membuktikan perkataannya. Melalui brand kaos kaki miliknya, Voria Socks, Mitha bergerilya di dunia bisnis. Meski brand-nya itu baru seumur jagung, omzetnya sudah ratusan juta rupiah.

Bisnis yang Mitha jalani, bukan tanpa rintangan. Setelah dia berhasil berbisnis, masih banyak teman yang mencemooh. Menganggap bahwa apa yang dia jual ‘tidak kelihatan’. ’’Tapi sekarang yang ngejek itu beli juga,’’ ucapnya seraya tertawa.

Awalnya, Mitha tak terpikir akan berbisnis kaos kaki. Sebelumnya, dia sempat berjualan pulsa, jus, baju wanita, makanan, hingga ayam tulang lunak. Semuanya tidak bertahan lama, karena pengelolaan yang kurang matang. Bahkan, ada cerita unik sewaktu dia berbisnis ayam tulang lunak.

Saat itu, dia baru kelas XI SMA. Dia dan pacarnya mencoba berbisnis ayam tulang lunak bernama Ayam Razet, yang artinya rusak dalam bahasa Sunda. Logonya dibuat sesuai nama—ayam menggunakan dua tongkat, dengan kaki pincang dan diperban. Saat hendak grand opening, Mitha pulang ke rumah untuk mengambil pisau. Namun nahas, di perjalanan, Mitha jatuh dari motor. Lokasi jatuh tepat di seberang Rumah Sakit Borromeus, Jalan Ir H Djuanda. Mitha sampai dapat enam jahitan.

’’Selesai pulih, aku ke sekolah persis kayak logo Ayam Razet. Kaki diperban, pincang, pakai tongkat di kanan-kiri. Aduh, malu banget,’’ tuturnya.

Setelah kejadian itu, dia mendapat pelajaran berharga. Bahwa logo adalah doa. ’’Jadi kita jangan sembarangan bikin logo,’’ terang alumni Young Entrepreneur Academy (YEA) ini.

Seiring dengan bisnisnya yang semakin berkembang, Mitha bersikeras akan tetap berjualan secara online, yakni melalui Instagram dan Twitter @voriasocks. Dia menilai, sistem online lebih mudah dikerjakan. Selain itu, Instagram lebih menjual karena bersifat visual. Mengenai desain kaos kaki dan konsep, Mitha memang merumuskannya sendiri. Adapun pemasarannya kini sudah sampai ke Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Di akhir perbincangan, Mitha menjelaskan arti sukses bagi dirinya. Menurut dia, sukses itu bukan bergelimang harta. ’’Tapi sukses itu, bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain,’’ tandasnya. (tam)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Baca Juga