Rumah Terdampak Trase Kereta Cepat Mulai Didata

bandungekspres.co.id, NGAMPRAH – Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, yang terkena dampak proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung dikunjungi tim dari PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) kemarin (23/6) siang. Mereka melakukan pendataan bangunan dan lahan yang terkena trase Kereta Cepat.

Tahap pertama mendata perumahan Taman Bunga, dan Kampung Simpati RT 3, dan 4, RW 5. Terdata 46 bangunan dan tanah berupa perkebunan yang terkena trase Kereta Cepat. Bangunan rumah paling banyak yang terkena mega proyek tersebut terdapat di perumahan Taman Bunga.

”Ada pendataan dari PT KCIC untuk beberapa lahan dan rumah yang terkena proyek Kereta Cepat,” ujar Kepala Dusun 2 Desa Cilame Bukhori Muslim yang mendampingi lima orang petugas dari PT KCIC.

Selama pendataan tidak semua pemilik bangunan dan tanah ada di tempat. Pasalnya beberapa pemiliknya tidak tinggal di Cilame.

Rencananya, pendataan akan kembali dilanjutkan hari ini (24/6) di Kampung Sumur Bor. Setelah pendataan selesai barulah dilanjutkan ke tahap pengukuran tanah. ”Memang ini untuk menentukan titik mana saja yang akan dilintasi. Makanya kita data terlebih dahulu. Supaya masyarakat juga lebih mengetahui,” paparnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Bandung Barat pada PT KCIC Adjang Suparman mengutarakan, pihaknya menargetkan hingga akhir tahun ini seluruh desa yang terkena dampak proyek ini dapat dibebaskan. Terutama tanah dan rumah warga yang dilalui Kereta Cepat ini.

”Jadi ada beberapa tim yang melakukan pendataan dan pembebasan. Saya sendiri di wilayah Bandung Barat dan Cimahi. Saya diberikan target akhir tahun ini pembebasan bisa selesai sehingga di awal tahun pembangunan Kereta Cepat ini bisa dimulai,” katanya.

Dikatakannya, lebar lahan yang digunakan untuk jalur Kereta Cepat ukurannya sangat variarif. Sehingga perlu penjelasan dan pemahaman kepada masyarakat. ”Tahap pertama ini kami masih melakukan pendataan warga mana yang terkena dampak disesuaikan dengan jalur lintasan yang lebar lahannya berbeda-beda, ada yang 12 meter, 5 meter bahkan ada yang 50 meter,” kata Adjang.

Lebih jauh dia menjelaskan, dari 17 desa yang terdampak proyek Kereta Cepat, ada beberapa desa yang jumlah kepala keluarga (KK) terdampaknya sudah terdata lengkap, di antaranya Desa Nyalindung dengan jumlah 132 KK, Desa Kertamulya 62 KK, Desa Cempakamekar 182 KK.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan