oleh

Bentuk Kapsul Lebih Mahal

BANDUNG dikenal sebagai kota yang ramah. Terutama, masyarakatnya. Hal ini didukung pula oleh cuaca Bandung yang lebih bersahabat dibandingkan Jakarta. Belum lagi kehadiran pohon-pohon rindangnya. Membuat Kota Kembang ini semakin disukai wisatawan. Baik domestik maupun luar negeri.

Namun, daya pikat Bandung berdampak pada arus lalu lintas. Pasalnya, wisatawan domestik, terutama Jakarta, memilih ke Bandung daripada kota lain untuk berlibur. Atau sekedar berbelanja dan menikmati makanan. Tak ayal, kondisi Bandung di akhir pekan selalu macet karena wisatawan menggunakan mobil pribadi.

Jangankan wisatawan, warga Bandung sendiri pun enggan menggunakan transportasi umum karena kurang nyaman. Belum lagi kondisi shelter-shelter yang buruk dan tidak terawat. Sebagian shelter malah dijadikan ‘rumah’ oleh gelandangan dan pengemis (gepeng). Tak jarang oleh orang yang kejiwaannya terganggu juga. Hal ini yang membuat warga malas ‘berdiam’ di shelter.

Untuk menarik warga menggunakan transportasi umum, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggunakan banyak cara. Salah satunya membuat shelter TMB (Trans Metro Bandung) dengan konsep kapsul. Namun, pembangunan ini menuai banyak kontroversi. Terutama, mengenai biaya pembangunan dan fungsinya bagi difabel. Tampak Pemkot Bandung lebih mengutamakan estetika dibandingkan fungsi.

Hal itu mengingat shelter di jalur koridor dua, di sepanjang kawasan Cicaheum-Cibereum pun tidak digunakan secara maksimal. Buktinya, untuk mengadakan tujuh shelter itu, Pemkot Bandung harus menganggarkan Rp 1 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sementara di tahun lalu, Pemkot Bandung menganggarkan Rp 3 miliar unutuk shelter di koridor dua, yang mencapai 30 shelter.

’’Kalau yang kapsul emang lebih mahal,’’ ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TMB Dishub Kota Bandung Yadi Haryadi kepada Bandung Ekspres kemarin (1/2).

Sementara itu, untuk pengadaan rute baru koridor tiga jalur Cicaheum-Sarijadi, akan difasilitasi dengan 18 shelter. Untuk koridor empat yaitu, Antapani ke Leuwipanjang akan disediakan 10 koridor yang saat ini sudah siap beroperasi.

Namun, untuk pengoperasiannya, Yadi menjelaskan, masih membutuhkan waktu hingga pemenang lelang operasional TMB sudah ditentukan. Ada pula rencana Pemkot untuk memfasilitasi masing masing 10 armada bus untuk jalur tersebut. ’’Sekitar Agustus baru mulai beroperasi. Itu juga belum lelang bus dan lain lain,’’ kata dia.

Masih mengenai shelter yang tidak terpakai pada koridor dua. Yadi menjelaskan, hal tersebut karena pengurus yang bersangkutan sudah habis kontrak dan tidak lagi menerjunkan petugas dalam proses operasionalnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perhubungan Kota Bandung Enjang Mulyana menerangkan, shelter III sudah siap. ’’Di antaranya, Cicaheum, Surapati, Cikapayang, Pasteur, Suryasumantri,’’ ujarnya kemarin.

Kembali ke Yadi, dia mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah menyosialisasikan rute dua koridor tersebut dengan organisasi dan koperasi angkutan kota. Sehingga, saat bus telah ada dan shelter juga siap digunakan, dua koridor ini langsung siap beroperasi. ’’Kita masih koordinasi dengan organda dan koperasi angkutan, karena itu masuknya rute mereka,’’ ujarnya. (fie/tam)

TMB Tidak Efektif

JUMLAH transportasi massal di Kota Bandung memang banyak. Sebut saja, bis Damri, angkutan kota (angkot), dan Trans Metro Bandung (TMB). Namun, belum semua keberadaannya optimal. Pasalnya, kemacetan masih melanda Kota Kembang ini. Bahkan, disinyalir jika akhir pekan tiba, macetnya melebihi Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.