Video Porno PSK-Anak Pesanan Luar Negeri

872
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
PORNOGRAFI ANAK: Kapolda Jabara Irjen Pol Agung Budi Maryoto (kedua kiri) dan Ketua P2TP2A Jabar Netty Heryawan (kanan) saat rilis kasus pornografi dan eksploitasi anak di Mapolda Jabar, kemarin.

BANDUNG – Setelah sempat viral, sutradara dan pemeran video PSK dan anak-anak akhirnya ditangkap. Polisi pun mengamankan enam orang yang terlibat.

Keenam para pelaku di antaranya MFA alias Bos, SM alias CI, APR alias IN, IO alias IM (PSK), HER dan SUS merupakan kedua ibu para anak-anak yang ada dalam adegan tersebut. Serta satu orang masih DPO yakni I.

”Hasil pemeriksaan para tersangka, video mesum tersebut merupakan pesanan dari pihak atau jaringan dari luar negeri, dan kita masih kembangkan untuk bisa menyentuh ke pihak yang katanya dari luar negeri itu,” jelas Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto saat gelar perkara di Mapolda Jabar, kemarin (8/1).

Agung menegaskan, saat ini ke enam tersangka telah mendekam di balik jeruji besi Mapolda Jabar, mereka diancam hukuman berlapis yaitu UU perlindungan anak nomor 17 tahun 2016 tentang Perpu No 1 tahun 2016 mengenai perubahan kedua atas UU no 23 tahun 2002. Mereka dijerat dengan UU 44 tahun 2008 tentang pornografi, pasal 29 sanksi pidana minimal 6 tahun maksimal 12 tahun. Pasal 27 ayat satu sanksi pidana 6 tahun.

Dia mengatakan, mengatakan, video tersebut beredar sejak Desember 2017 lalu, di sejumlah media sosial. Kunci dari terbongkarnya kasus tersebut, lanjutnya, setelah ada suara khas dari salah seorang pelaku pemeran dalam video yang beredar sejak Desember 2017 lalu di sejumlah media social tersebut.

Lihat Juga:  Perbaiki Irigasi Jebol Hari Ini

”Dalam video tersebut terlihat seorang wanita tengah melakukan perbutan tidak senonoh bersama dua orang anak laki-laki. Ada suara dengan logat Sunda,” kata Agung.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) ‎Jawa Barat Netty Prasetyani Heryawan mengungkapkan, penanganan para korban yang merupakan anak di bawah umur, sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) sudah diberlakukan di lembaga TP2TP2A sebagai lembagai layanan.

”Kita akan melakukan serangkaian kegiatan yang pertama adalah observasi dan asesmen yang akan melibatkan psikolog. Sebab, ini berdampak trauma,” urainya.

Selain itu, lanjut Netty, pihaknya pun akan melakukan trauma healing. Termasuk kembali mendorong sekolah. Sebab, dua dari tiga orang yang terlibat diketahui putus sekolah.

Oleh karena itu, kata Netty, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Jawa Barat khususnya unit pendidikan khusus yang untuk menangani anak berhadapan dengan hukum.

Awal mula pembuatan video porno tersebut, terjadi cukup rinci. Mereka melakukan pertemuan antara MFA alias Bos dengan APR alias Intan di sebuah hotel di wilayah Ir H Djuanda (Dago). Pertemuan tersebut difasilitasi oleh I yang saat ini masih dalam pengejaran.

Sebelum video itu beres, ternyata APR dan anak DN pernah melakukan foto dengan berpakaian lengkap. Pengambilan foto dilakukan oleh Bos. ”APR membawa anak yang bernama DN dari stasiun kereta api Kiaracondong dengan izin kepada orang tua DN. Modusnya, akan dibawa jalan-jalan. Sebagai uang jasa APR mendapatkan imbalan sebesar Rp 800 ribu,” urai Agung.

Lihat Juga:  Dukung Pembangunan SMPN 6

Pertemuan berikutnya, kata dia, melakukan foto den fose tanpa busana hanya menggunakan bra dan celana dalam. Sedangkan DN menggunakan kaos dalam dan celana dalam. ”Seluruh gaya diarahkan oleh Bos. Dan para pemeran semuanya diberi imbalan. APR mendapatkan Rp 1,5 juta dan DN Rp 300 ribu,” katanya.

Sedangkan untuk pertemuan ketiga, tuturnya, terjadi Mei 2017. Saat itu, antara bos dan APR sudah menyepakati akan membuat video. Dan video tersebut diawali antara APR dan DN masuk ke kamar hotel, namun lanjut Agung, DN menangis karena tidak mau direkam. Kemudian bos menyuruh APR untuk menghubungi orang tua DN yakni Sus agar datang ke hotel.

”Melihat anaknya menangis, Sus meminta kepada Bos untuk menunda dilakukan rekaman video. Selanjutnya menyuruh Sus untuk mencari teman dekat DN agar menemani anaknya agar mau melanjutkan rekaman video,” tuturnya.

”Atas desakan bos, Sus juga keluar kamar mencari teman DN, dan tidak lama kemudian Sus pun datang dengan membawa anak yang bernama SP, yaitu teman dekat DN,” tuturnya lagi.

Lebih lanjut lagi Agung mengungkapkan, setelah SP datang, Bos mulai merekam video persetubuhan yang dilakukan oleh APR dengan DN. Kemudian bos memaksa dan membujuk SP untuk ikut dalam rekaman tersebut dengan mengiming-imingi memberikan uang Rp 100 ribu.

Lihat Juga:  Ancaman Kejahatan Konvensional

”Pada pembuatan video tersebut, Sus orang tua DN ada di dalam kamar yang sama. Video durasi satu jam tersebut, dilakukan oleh APR, DN dan SP diarahkan oleh Bos, ketiganya pun mendapat imbalan, APR Rp 1 juta, DN Rp 300 ribu dan SP Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Agung, tersangka Bos juga mengadakan pertemuan dengan IM dengan difasilitasi oleh CI. Dengan tawaran untuk memuat video persetubuhan dengan anak di bawah umur yang berinisial RD. Pembuatan video tersebut dilakukan di Hotel M yang berada di Jalan Supratman Bandung. Pembuatan video dilakukan Agustus 2017 lalu.

Rekaman berawal dari balkon hotel, kemudian melakukan persetubuhan di tempat tidur dan kamar mandi. Seluruh adegan dilakukan oleh IM dan RD yang diarahkan oleh Bos. Sedangkan orangtua RD saat adegan berlangsung berada di balkon hotel bersama CI.

Klimaksnya, pada 4 Desember, IM mengetahui kalau video tersebut beredar di media sosial. IM panik menghubungi bos untuk meminta ganti rugi. Kemudia antara IM dan Bos melakukan pertemuan di sebuah mal di Jalan Jakarta. IM diberikan uang oleh Bos sebesar Rp 500 ribu untuk mengubah tato yang ada pada paha kirinya. Termasuk uang tambahan Rp 2,7 juta sebagai ganti rugi. (yul/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.