TB Pesaing Terberat Sudrajat

Gerindra Tak Pakai Personal Branding

478
ACHMAD NUGRAHA/JABAR EKSPRES
JELANG PENDAFTARAN: Cagub TB Hasanudin (kiri) dan cawagub Irjen Anton Charliyan (kanan) menaiki mobil terbuka dalam perjalan menuju Kantor KPU Jabar, Kota Bandung, baru-baru ini.

BANDUNG – Lembaga Survei Indo Barometer menilai peluang kemenangan pasangan Mayjen Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) akan berat di Pilgub Jabar 2018. Sebab, ada sosok TB Hassanuddin yang sama-sama memiliki rekam jejak militer dengan pengalaman yang jauh lebih banyak di dunia politik.

Mayjen Sudrajat
Cagub dari Partai Gerindra

”TB Hassanuddin dengan Anton akan mengganggu kesempatan ataupun peluang Sudrajat,” tutur Peneliti Senior dari Lembaga Survei Indo Barometer Hadi Suprapto Rusli kepada Jabar Ekspres kemarin (12/1).

Jika faktor pemilih menginginkan pemimpin dari kalangan militer, kata dia, tentu pemilih akan lebih memilih TB Hassanuddin dibandingkan dengan Sudrajat.

Sebab, TB Hassanuddin se­lain sudah lama di dunia po­litik. Terutamanya TB juga sebagai anggota DPR RI.

”Dan sebagai Ketua DPD PDIP Perjuangan Jawa Barat yang sangat tahu betul soal pemetaan daerah basis suara sampai ke akar rumput,” je­lasnya.

Selain itu, pasangan calon Asyik pun secara popularitas masih kurang baik. Bahkan, dari aspek kemampuan atau elektabilitas, baik Ahmad Sy­aikhu maupun Sudrajat masih rendah.

Lihat Juga:  Siap Gerus Dominasi Tiongkok

”Aspek kepribadian dua ca­lon ini pun tidak kalah sama­nya yang masih tidak banyak dikenal masyarakat Jawa Ba­rat secara keseluruhan. Se­hingga, dua calon ini tidak memiliki basis suara yang besar dibandingkan pasangan calon lainnya yang lebih po­puler ataupun dengan elek­tabilitasnya yang tinggi se­perti RK-Uu dan Duo DM,” terangnya.

Dia mengatakan, Mayjen Sudrajat baru muncul di tengah-tengah waktu pendaf­taran. Sehingga namanya tidak pernah muncul dari berbagai survei yang dilakukan oleh lembaga survei. Akibatnya, pasangan calon Asyik ini me­miliki pekerjaan rumah untuk membuka lebar peluang me­nang.

Namun demikian, itu juga tak bisa dipandang remeh. Sebab, Partai Gerindra dan PKS yang sangat solid di me­sin partai. ”Terbukti dengan di Pilkada DKI Jakarta, koa­lisi Partai Gerindra dan PKS yang mengusung Anies dan Sandi yang polanya sama se­perti di Pilgub Jabar 2018 ini ternyata Anies Sandi pun da­pat menang,” tegasnya.

Lihat Juga:  Bus Damri Terbakar di Depan Kampus IPDN Sumedang

Di sisi lain, pasangan calon ASIK ini memiliki modal lain yang akan membuka peluang menang meskipun dinilai masih berat. Yaitu aspek ba­risan koalisi ini yang solid sebagai partai pendukung Prabowo Subianto.

”Kelebihan pasangan calon ini lebih ke memiliki barisan koalisi yang solid sebagai pendukung Prabowo Subi­anto,” ujarnya.

Salah satu solusi tambah Hadi, untuk membuka pelu­ang atau kesempatan pasangan calon Asyik ini bisa menang yaitu, harus memiliki tim la­pangan yang kuat. Baik itu dari Partai Gerindra maupun PKS dan PAN.

Di samping itu, Tim Peme­nangan pasangan calon Asy­ik ini pun harus melakukan personal branding yang pas untuk mengambil simpati masyarakat. Terutama me­ningkatkan popularitas kedua kandidat ini yang masih ren­dah.

Di tempat yang berbeda, Peneliti Senior sekaligus Di­rektur Utama dari Lembaga Survei Parameter Agus Ari­bowo menambahkan, pa­sangan Asyik ini diprediksikan akan lebih memainkan mesin partai, tidak akan banyak mengoptimalkan personal branding.

”Sebab, Mayjen Sudrajat itu tidak ada tahu, tak banyak yang kenal dia. Begitu juga dengan Ahmad Syaikhu kurang populer mengingat hanya cakupannya di Bekasi saja. Sehingga, pasangan Asyik lebih banyak mengandalkan mesin partai yang solid dan memainkan isu terkini,” tu­turnya.

Lihat Juga:  Siap Jadi Pusat Kebudayaan Jabar

Adapun soal detail isu-isu yang akan digunakan oleh pasangan Asyik ini dipredik­sikan bukan isu kesehatan ataupun pendidikan. Sebab, isu ini dinilai tidak akan laku. Mengingat Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang memiliki janji menggratiskan pendidikan, tapi nyatanya tidak bisa menyeluruh direa­lisasikan.

”Sehingga isu pendidikan kurang seksi untuk dijual ke­pada masyarakat Jawa Barat. Isu kesehatan juga yang kurang diminati,” ujarnya.

Masyarakat Jawa Barat sudah cukup pintar untuk menger­ti soal isu ataupun program yang realistis bisa terealisasi di Jawa Barat. Sehingga, jika ada kandidat yang menawar­kan atau menjaul program-program yang fantastis, dip­andang tidak tidak akan di­minati. (mg2/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.