Peserta UNBK Menumpuk

Di Bandung, Satu Sekolah Disangka Penyusup

4
PUSING KAKAK: Siswa mengerjakan soal Bahasa Indonesia saat mengikuti Unjian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMA 5 Bandung, Jalan Belitung, Kota Bandung, Senin (10/4).

jabarekspres.com, BANDUNG – Dinas Pendidikan Jawa Barat terus mengevaluasi pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA. Meski begitu, Kadisdik Jabar Ahmad Hadadi menegaskan, UNBK tingkat SMA di Jabar sudah mencapai 86 persen.

Hadadi mengatakan, dari jumlah tersebut bahkan sudah ada beberapa kota/kabupaten di Jabar yang sudah melaksanakan UNBK 100 persen.

Alhamdulilah SMA di Jabar sudah 86 persen melaksanakan program ujian berbasis komputer. Mudah-mudahan ke depan akan bisa 100 persen,” kata Hadadi saat memantau UNBK di SMAN 5 Kota Bandung, kemarin (10/4).

Hadadi memerinci, kota/kabupaten yang sudah 100 persen tersebut antara lain Kota Bandung, Depok, Bogor, Kabupaten Karawang, Purwakarta, Sukabumi, Cianjur, Sumedang, Cirebon, Majalaya, Indramayu, Tasikmalaya, Banjar, Kuningan, dan Ciamis. ”Sedangkan, mereka yang belum siap rata-rata berada di daerah agak pedalaman,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hadadi memaparkan, saat ini jumlah keseluruhan siswa di Jabar yang mengikuti UNBK sebanyak 196.768 peserta. Sementara untuk, UNKP (basis kertas dan pensil) sebanyak 14 persen atau sebesar 47,592 peserta.

Untuk mengantisiapasi terjadinya kendala selama UNBK 2017 berlangsung, kata dia, setiap sekolah sudah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Baik itu aparat keamanan, maupun dari pihak PLN. Sehingga bisa dipastikan selama proses UNBK, tidak akan ada pemadaman listrik.

”Mudah-mudahan pelaksanaan UNBK tingkat SMU di Jabar bisa berjalan dengan lancar tanpa adanya halangan apapun,” tandasnya.

Sementara itu, pelaksanaan UNBK di SMA Tamasek Independen School di Gegerkalong, Kota Bandung sempat karena diblokir di server pusat Kemendikbud.

Proktor Utama, Frederick Luis SMA Tamasek Independen School mengatakan, jika pelaksanaan UNBK di sekolahnya terlambat dua jam dari jadwal yang harusnya dilaksanakan.

”Betul sekolah kami terblokir di server pusat, dikarenakan server sekolah kami tidak tercatat di Kemendikbud,” terangnya, kemarin.

Dia mengatakan, teknis pemblokiran tersebut dikarenakan server di sekolahnya berganti program dari ASP menjadi Matrix. Salahnya, katadia, penggantian program tersebut tidak diinformasikan ke Kemendikbud. Sehingga program sekolahnya tidak tercatat di Kemendikbud sebagai program yang akan mengikuti UNBK.

”Jadi kami dianggap penyusup mungkin karena programnya baru dan IT program kami tidak menginformasikan ke pusat, kami terus melakukan koordinasi dengan panitia disini dan kemudian panitia menghubungkan ke server pusat dan juga Matrix agar menghubungi Kemendikbud agar membuka blokiran kami dan kami benar-benar peserta UNBK bukan penyusup,” paparnya.

Akibat teknis itu, siswa di SMA Tamasek Independen School pun tidak bisa mengikuti ujian sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dan harus molor hingga dua jam dari jadwal semula.

”Kami akhirnya bisa mengikuti UNBK setelah pihak Matrix menghubungi server pusat lansung, namun kami log in-nya memang terlambat dari jawal semula. Namun tetap mengikuti sesi pertama, karena UNBK ini kan ada tiga sesi,” terang Fredi.

Siswa di Tamasek sendiri dipaparkannya memang hanya empat orang yang mengikuti UNBK. Selebihnya siswa lainnya sudah mengikuti ujian persamaan. ”Ini pertama kali kami ikut UNBK, tahun lalu kami bergabung ke SMAN 15 Bandung,” jelasnya.

Sementara itu di Cianjur,  sarana dan prasarana (UNBK) di dinilai masim minim. Bahkan beberapa sekolah harus menumpang. Bahkan di dalam satu ruangan terdapat peserta yang melebihi kuota.

”Setelah saya tinjau untuk Ujian Nasional SMA, ternyata banyak yang digabung di satu sekolah,” ujar Wakil Bupati Cianjur, Herman Suherman usai melakukan peninjauan ke sejumlah sekolah, kemarin (10/4).

Dalam pelaksanaan hari pertama, Wakil Bupati didampingi Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Sapturo mendatangi SMAN 1 Cianjur dan SMAN 2 Cianjur.

Di SMAN 1 Cianjur, kata dia, dirinya mendapati sejumlah sekolah bergabung di sana. Yakni SMA Al-Azhari, Cokroaminoto, dan Al Muawanah. Sarana yang kurang membuat sekolah tersebut bergabung di SMAN 1 Cianjur untuk UNBK.

”Cianjur memang seluruhnya sudah UNBK untuk SMA, tapi ternyata sarananya masih minim. Disiasati dengan digabung di sekolah yang sudah cukup,” katanya.

Dia berharap, ke depan tidak ada lagi sekolah yang kekurangan sarana komputer untuk UNBK. ”Ya ke depan harus ditambah sarananya agar tak ada lagi yang digabung,” ucapnya.

‎Seperti halnya yang terpantau di SMAN 2 Cianjur. Sarana yang teratas membuat pelaksaksaan dipadatkan, bahkan satu ruangan lebih dari 60 siswa sehingga dinilai gemuk.

Menurutnya, total siswa yang mengikuti ujian mencapai 337 orang dengan dibagi tiga sesi. Meskipun saling berhadapan, dia menjamin tidak ada kecurangan atau saling contek antar siswa.

”Soalnya kan beda, pastinya tidak ada saling contek. Tapi ke depan upayakan supaya ruangan UNBK ditambah sehingga tidak berdesakan seperti sekarang,” ungkapnya.

Sementara itu, di Kota Sukabumi, pelaksanaan UNBK berjalan lancar. ”Tahun ini merupakan kali keempat dilaksanakannya UNBK di sekolah kami. Kita menjadi pionir sekolah penyelenggara UNBK di Kota Sukabumi. Untuk persiapannya tentu hampir sama dengan tahun-tahun sebelumnya,” terang Kepala SMAN 3 Kota Sukabumi, Ceng Mamad, kemarin.

Dari sisi teknis, sebut Ceng, semua penyediaan seperti perangkat komputer, jaringan internet, maupun pasokan listrik sudah siap. Pun dari sisi kesiapan peserta, pihak sekolah sudah membekali setiap siswa dengan pemantapan dan penguatan mental serta rohani.

”Untuk penyediaan daya pasokan listrik, kita sudah koordinasi dengan PLN termasuk jika terjadi force majeure, sudah ada genset. Kalau dalam keadaan darurat, kita bisa memanfaatkan genset. Untuk jaringan internet, kita pastikan bandwidth-nya sudah memenuhi atau bahkan di atas standar,” ujarnya.

Jumlah siswa yang terdaftar mengikuti UNBK di SMAN 3 Kota Sukabumi terdaftar sebanyak 446 orang. Hanya saja satu orang siswa tak bisa ikut lantaran sedang mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika Serikat. Kemungkinan siswa tersebut akan melaksanakan UNBK tahun depan.

”Tahun ini juga terdapat 13 siswa dari sekolah lain yang ikut UNBK di sini,” ujarnya.

Untuk penyediaan perangkat komputer, Mamad menyebutkan sudah disiapkan sebanyak 160 unit. Perangkat komputer itu disiapkan di empat ruangan kelas. Satu ruangan kelas tersedia 40 unit komputer dan 1 unit server.

”Jadi jumlah perangkat komputer yang kami siapkan sebanyak 160 unit ditambah 4 unit server. Kita juga siapkan 10 hingga 14 unit komputer cadangan untuk berjaga-jaga seandainya terjadi trouble dalam pelaksanaannya,” sebutnya.

Peserta UNBK, Tiara Annisa Wiharsa, mengaku berbagai persiapan sudah dilakukan menjelang UNBK sejak November hingga Maret. Hasil pemantapan itu, kata Tiara, yang cukup sulit itu soal penghitungan rumus.

”UNBK itu kan berbasis komputer. Tapi ketika kita mengerjakan soal, misalnya matematika, kan butuh hitung-hitungan. Kalau kalau dibandingkan sih lebih mudah UNBK karena lebih praktis,” terang Tiara. (dn/bay/tts/rie)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here