Delapan Daerah di Jabar Kekeringan, Ribuan Hektar Sawah Gagal Panen

4
FAJRI ACHMAD NF / JABAR EKSPRES
KERING DI TANGKAI: Petani membersihkan rumput liar di kebun Cabai Rawit di Kampung Cicayur, Desa Cimenyan, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Minggu (10/9) lalu.

jabarekspres.com, BANDUNG – Delapan kabupaten/kota di Jawa Barat darurat kekeringan. Meski belum dirasa masif, namun musim hujan diprediksi baru turun pada September mendatang.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, situasi tersebut terjadi karena dampak musim kemarau. Tercatat selama 60 hari tidak ada hujan turun.

”Darurat kekeringan mungkin di beberapa daerah saja. Darurat itu di Ciamis, Cianjur, Indramayu, Karawang, Kuningan, Sukabumi, Banjar dan Tasikmalaya,” katanya di Gedung Sate, Bandung, kemarin (13/9).

Dia menilai kondisi kekeringan di Jabar masih relatif biasa. Namun, di delapan kota/kabupaten tesebut dirasakan cukup parah. ”Sebab, (musim) kemaraunya biasa-biasa juga. Tidak ada hujan lebih dari 60 hari hanya di beberapa tempat. Di semua tempat masih di bawah 60 hari,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Aher itu menambahkan, dari laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, pada September nanti di Jabar memasuki musim hujan.

Meski demikian, Pemprov Jabar telah menyiapkan se­jumlah langkah antisipasi untuk membantu daerah yang mengalami kekeringan se­perti menurunkan bantuan pompanisasi.

Sementara itu, petani di di Kecamatan Arjasari, Kabu­paten Bandung terancam gagal tanam. Sebab, saluran irigasi yang mengairi sawah di wilayah tersebut mengering.

Menurut pantauan, padi yang baru tumbuh setinggi 10-15 cm dan usia sekitar satu-dua bulan itu dibiarkan dan banyak ditumbuhi rum­put liar. Selain itu tanah sa­wahnya pun mengering dan menimbulkan retakan.

Salah satu petani di Kam­pung Patrolsari Desa Pa­trolsari, Kecamatan Arjasari, Jeje Jaenudin mengaku, seluruh padi yang ditanam di lahan miliknya akan te­rancam gagal tanam jika tidak segera dialiri air. Sebab, tidak ada pasokan sedikitpun.

Jeje mengungkapkan, dia sudah tidak punya modal lagi untuk memasang mesin pompa air dan selang sepan­jang 200 meter untuk meny­alurkan air dari Sungai Cikieum ke sawah miliknya.

Sejauh ini dia sudah meng­gelontorkan Rp 6 juta untuk digunakan biaya membajak sawah, membeli benih dan pupuk.

”Saya sudah rugi Rp 6 juta. Saya kita tidak akan kemarau panjang. Saya hanya pasrah saja, ya mau apalagi, kecua­li ada bantuan dari pemerin­tah,” urainya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung Tisna Umbaran menjelaskan, di musim ke­marau ini, pihaknya menda­patkan laporan sekitar 1.880 hektare lahan pesawahan di Kabupaten Bandung terancam mengalami gagal panen. ”La­poran gagal panen ke Dinas Pertanian tersebar di Nagreg, Cicalengka, Cikancung, Ci­paray dan Ciwidey,” kata Tisna.

Lebih jelas lagi Tisna men­gatakan, luas lahan yang te­rancam gagal panen ada se­kitar 1.880 hektare tersebar di Kabupaten Bandung yang ringan 25 hektare, sedang 15 hektare, berat 30 hektare dan puso delapan hektare.

Tisna menilai, kejadian ter­sebut bukan merupakan su­atu bencana, kekeringan sudah rutin terjadi di musim kemarau. Begitulun di musim hujan kerap terjadi banjir.

Untuk mengurangi angka ancaman gagal panen, lanjut Tisna, pihaknya sudah me­nerjunkan penyuluh perta­nian untuk mensosialisasikan dan menyampaikan agar menjelang musim kemarau untuk alih komoditi.

”Kami sudah melakukan penyuluh menyampaikan agar menjelang musim kemarau petani untuk alih komoditi dari sawah ke palawija atau sayuran seperti di Banjaran, Cangkuang sudah ditanami sosin, kangkung dan lainnya,” ungkapnya.

Sementara itu, di Cimahi salah satu wilayah yang ter­kena dampak tersebut adalah Kampung Cimenteng RW 11 Kelurahan Cipageran Keca­matan Cimahi Utara. Karena sulitnya mendapatkan air bersih, warga kampung Ci­menteng harus rela mengan­tre berjam-jam. Bahkan me­reka ada yang sampai rela untuk begadang.

Dari pantauan, terlihat warga Cimenteng berdatangan dan mengantre menggunakan ember dan jeriken untuk penampungan air. Mereka mengantre di depan sumber air dari pipa PDAM yang ada di pinggir jalan Cimenteng.

Ipah Saripah, 42, salah seo­rang warga Cimenteng men­gatakan, biasanya dalam kondisi normal, aliran air PDAM langsung tersambung ke rumah-rumah warga dengan menggunakan pipa. Namun beberapa minggu ke belakang, tak ada lagi air bersih yang mengalir ke rumahnya.

”Enggak ada ngocor sama sekali. Makanya kita terpaksa antre di sini. Walapun ngo­cornya sedikit, tapi lumayan­lah masih ada,” papar Ipah saat ditemui di sela-sela mengantre air, di Kampung Cimenteng RT 01/RW 11 Ke­lurahan Cipageran, Kota Ci­mahi, kemarin (13/9).

Ipah mengungkapkan, diri­nya bersama warga lain mem­butuhkan waktu hampir 2 jam lamanya hanya untuk menda­patkan air sebanyak 10 ember kecil. Hal itu disebabkan air yang mengalir sangat kecil. Dia mengaku, air tersebut digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi, dan masak.

Atikah, 60, warga lainnya juga mengaku membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari termasuk minum. Bahkan dirinya harus bisa memanfaatkan air yang dia ambil sehemat mungkin.

”Kalau yang banyak uang sih bisa aja beli buat minum. Lah saya buat makan sehari-hari saja susah. Ya sekarang mah diirit-irit aja,” katanya.

Sementara itu ditemui ter­pisah, Kepala Humas PDAM Tirta Raharja Dadang Supri­adi mengaku, kurangnya air bersih yang tersalurkan ke­pada para pelanggan PDAM Tirta Raharja itu disebabkan karena adanya penurunan kapasitas debit air baku yang ada di Situ Lembang ke sung­ai Cijanggel.

”PDAM Tirta Raharja hanya bisa mengolah air 62 liter per detik dari kapasitas 176 liter per detik. Saat ini kita me­layani pelanggan Cimahi ku­rang lebih 15.840 sambungan rumah, terbagi tiga kecamatan. Yang paling terdampak adalah wilayah selatan,” katanya, kemarin.

Dengan berkurangnya debit air ini, Dadang menuturkan, otomatis akan berpengaruh terhadap tingkat pelayanan pelanggan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pelang­gan, pihaknya harus melaku­kan penjadwalan dalam men­galirkan air.

”Yang biasa mengalir 24 jam, sekarang terpaksa dibagi-bagi, terutama di wilayah barat dan timur. Sedangkan wilayah yang sulit dijangkau secara teknis kita melakukan bantuan mel­alui tengki. Kita drop ke bebe­rapa wilayah, kita siapkan 4 armada,” tuturnya.

Dadang menjelaskan, untuk masyarakat yang meminta droping dengan menggunakan tanki bisa langsung ke kantor pelayanan di tempat biasa melakukan pembayaran. Se­telah itu pihak PDAM akan melakukan penjadwalan pengiriman.

”Hampir dua minggu ini terjadi antrean. Kami stand­bye selama 24 jam untuk melayani masyarakat, ada satpam yang jaga. Bagi pelanggan bisa memperlihatkan bukti pembayaran,” pung­kasnya (yan/yul/ziz/rie)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here