Banyak PNS di Zona Nyaman

5
Ridwan Kamil
FAJRI ACHMAD NF / BANDUNG EKSPRES
PREDIKAT A: Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menunjukkan piagam penghargaan pada Penyerahan Hasil Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

bandungekspres.co.id, BANDUNG – Pemkot Bandung mendapatkan nilai A dalam laporan kinerja terbaik Laporan Hasil Evaluasi Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) Daerah Wilayah Sumatera, Banten, dan Jawa Barat. Lantas apa rahasianya?

Di hadapan ratusan kepala daerah se-Indonesia Wali Kota Ridwan Kamil mengatakan, capaian ini merupakan tugas berat. Dikerjakan secara bertahap dan keseluruhan.

Pria yang akrab disapa Emil ini menceritakan, perbaikan dalam birokrasi pada akhir 2013. Pada saat itu, Kota Bandung dalam Laporan Kinerja hanya memperoleh nilai C dengan point 55.

”Kemudian saya lakukan penelusuran dan kuncinya satu pemimpin harus turun langsung ke bawah,” jelas Emil kemarin (25/1).

Memberikan arahan langsung ke bawah sangat penting. Sebab memberikan perintah dan mencontohkan di tengah sistem yang kompleks akan mudah dimengerti dan dipahami bawahan. ”Termasuk meningkatkan kinerja dan akuntabilitas,” ucapnya.

Dia juga menemukan beberapa pengaplikasian dari program yang akhirnya tidak tepat sasaran. ”Contohnya, ketika meminta anggaran untuk perbaikan lalu lintas, namun karena dana tersebut tidak digunakan, malah dibelikan motor forerider,” ungkapnya.

Program-program yang ada di SKPD sebenarnya sudah bagus. Tapi pada outputnya tidak signifikan. Hasilnya malah diterjemahkan hanya untuk rapat makan dan minum. ”Ini terjadi waktu dulu, dan budaya ini sangat melekat dan harus diubah,” tegas Emil.

Selain itu, skpd menurut suami dari Atalia Praratya Kamil juga kerap tidak bisa menerjemahkan penggunaan anggaran. Bahkan pada prosesnya tidak dilakukan pengawalan untuk memuluskan pembangunan. ”Banyak PNS yang merasa tenang karena berada di zona nyaman,” tegasnya.

”Melihat begini ya sudah, saya obrak-abrik dan melakukan rotasi besar-besaran,” sambungnya.

Untuk mengubah menggeret mereka dari zona nyaman, pihaknya juga membuat kerjasama bersama untuk menciptakan komitmen pada November 2014 lalu. Harapannya, komitmen tersebut menjadi tanggung jawab kepala dinas. Otomatis, ini juga akan menjadi perintah ke bawahannya sesuai dengan komitmen itu.

Hasilnya selama setahun memiliki efek luar biasa pada perubahan kinerja dan birokrasi dan peningkatan pada pelayanan masyarakat.

Di samping membenahi SDM, dalam pembuatan laporan pihaknya juga menyusun seperti model laporan kemajuan kinerja yang terintegrasi dengan teknologi informasi yang dilaporkan setiap bulannya.

”Jadi siapapun kepala dinasnya mengandalkan kualitas sdm-nya. Sebab, sudah disistem, tidak hanya itu saya, masyarakat pun bisa menilai juga kinerja mereka,” tuturnya.

Emil memaparkan, dalam sistem anggaran pun, Pemkot Bandung sudah menerapkan sistem e-budgeting. Sistem ini, berdampak pada efesiensi. Termasuk bisa mengawasi anggaran siluman yang biasa digunakan di akhir tahun. ”Sebab rencana detil penggunaan anggaran harus dipaparkan secara rinci di awal  tahun,” ungkapnya.

Emil menyebutkan, dengan proses ini pihaknya telah melakukan efesiensi pada 2016 ini sebesar Rp 1 triliun dan belanja langsung ke masyarakat menjadi 61 persen.

Untuk pendongkrak kinerja pegawai dirinya juga memberikan apresiasi berbasis kinerja yang berbasis Sistem Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Sakip). Sehingga akan terlihat mana PNS yang benar-benar bekerja dan tidak.

Menyikapi keberhasilannya, Emil mengaku, sangat terbuka bagi kepala daerah manapun untuk bisa sharing dan studi banding. Termasuk menularkan keberhasilan Kota Bandung ke daerah lain. (yan/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here