Antisipasi Bully 40 Paskibraka

Wabup Cianjur Bentengi Para Siswa dari Makian

48
Bendera Gagal Naik
IKBAL SELAMET/JABAR EKSPRES
TATAPAN KOSONG: Salah seorang siswa Paskibraka terlihat masih syok RSUD Pagelaran, Kabupetan Cianjur, kemarin (17/8). Sebanyak 12 lainnya pingsan setelah gagal mengibarkan bendera merah putih.

jabarekspres.com, CIANJUR – Pemerintah Kabupaten Cianjur bakal melakukan pembinaan ke sekolah-sekolah asal 40 anggota Paskibra Pagelaran, Kabupaten Cianjur yang histeris lantaran gagal mengibarkan bendera. Hal itu dilakukan untuk menyelamatkan mereka dari bullying teman-temannya di sekolah.

Wakil Bupati Cianjur Herman Suherman mengatakan, pihaknya bakal menugaskan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) serta Dinas Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) untuk melakukan pembinaan dan pengarahan pada siswa serta setiap sekolah di Pagelaran.

”Pastinya Pemkab akan beri dukungan pada mereka. Sebab bukan kesalahan mereka seutuhnya. Mereka kan sudah berusaha. Yang perlu dilakukan sekarang ini, bagaimana mengembalikan semangat mereka,” kata Herman kepada Jabar Ekspres, kemarin (18/8).

Camat Pagelaran Tatang Basari mengatakan, pihaknya bersama unsur Muspika, mulai dari Polsek, Koramil, dan lainnya bakal melakukan pembinaan ke masing-masing sekolah. Para siswa akan dijelaskan kejadian tersebut supaya tidak terjadi bullying para anggota Paskibra tersebut.

”Memang yang perlu diantisipasi itu bullying, jangan sampai mereka jadi minder saat di sekolah karena kejadian tersebut. Rencananya hari ini (kemarin, Red) mau dikumpulkan lagi, tapi pihak sekolah meminta Senin supaya seluruh siswa hadir,” ucapnya saat ditemui di kantornya.

Lihat Juga:  Adakan Bimtek untuk Pengelolaan Panti

”Dan cukup penting untuk tetap menyemangati calon pengibar bendera lain agar bisa mengemban amanah mengibarkan bendera,” sambungnya.

Menurutnya, untuk para anggota paskirba Pagelaran khususnya 12 anggota yang pingsan sudah mendapatkan pengarahan dan pembinaan. Bahkan meski dalam kondisi tertekan, pada sore harinya mereka melakukan penurunan bendera.

”Meski gagal, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik saat menurunkan bendera,” kata dia.

Dia menegaskan, jika kejadian itu merupakan di luar perkiraan, sebab sesaat sebelumnya seluruh hal sudah diperiksa dan dicoba. ”Tapi ini akan jadi evaluasi supaya ke depan tidak terulang,” tuturnya.

Sementara itu, dr Michael yang menangani para anggota Paskibra Pagelaran mengatakan, mereka hanya mengalami syok dan kecewa lantaran latihan yang panjang harus terkendala oleh masalah nonteknis.

”Hanya syok ringan, tidak parah. Setelah satu atau dua jam perawatan sudah bisa kembali pulang,” ujar Dokter Umum di RSUD Pagelaran itu.

Lihat Juga:  Ciwidey Jadi tujuan Liburan Akhir Tahun

Dia menjelaskan, para anggota Paskibra itu tidak harus menjalani terapi medis. Namun tetap mesti diberikan terapi wicara oleh orangtua, guru, dan lingkungannya.

Jika tidak diberi terapi wicara atau konseling, dampak ke depan bagi mereka bisa buruk. Kemungkinan mereka bisa mengidap social phobia: takut akan lingkungan sekitarnya dan takut untuk melakukan sesuatu atas kegagalan yang sempat terjadi.

”Pastinya kalau tidak ada pembinaan, konsultasi, dan semacamnya mereka akan anti sosial, takut melakukan sesuatu sebab khawatir akan terjadi kegagalan lagi. Itu yang perlu diantisipasi,” urainya.

Tiang Baru Justru Tak Berfungsi

Sementara itu, tiang bendera di Lapangan Pagelaran kemarin dibongkar. Sebab, warga percaya jika tiang yang baru itu tidak cocok. Sehingga kembali menggunakan tiang yang sudah puluhan tahun berdiri dan dipakai mengibarkan bendera.

”Tiang yang dipakai kemarin langsung dibongkar oleh warga, beberapa jam setelah upacara 17 Agustus,” ujar Tatang.

Dia mengungkapkan, tiang tersebut diketahui baru dipasang beberapa hari sebelum pengibaran dilakukan. Alasan pemasangan tiang tersebut karena posisi tiang yang sebelumnya tidak berada di tengah. Sehingga inspektur atau pembina upacara selalu membelakangi bendera.

Lihat Juga:  Rumah Mewah Penjual Miras Disegel

 

”Posisi tiang kan harusnya berada di hadapan setiap peserta, makanya dicoba dipindahkan. Tapi malah terjadi hal tersebut,” ucapnya.

Dia mengungkapkan, warga percaya jika pengibaran bendera harus tetap di tiang lama yang sudah digunakan sejak puluhan tahun. Maka dari itu, ketika ada kendala saat pengibaran bendera diyakini jika letaknya tidak cocok dan dibongkar kembali.

”Sudah selesai dibongkar, jadi pakai lagi tiang yang lama. Alhamdulillah ketika bendera dinaikkan siang harinya lancar. Kemudian, ketika diturunkan sore harinya, tidak ada kendala,” katanya.

Diberitakan sebelumnya,  sebanyak 12 orang dari 40 Paskibraka pingsan setelah gagal mengibarkan bendera di upacara HUT ke-72 RI, Kamis (17/8). Mereka merasa gagal dan malu tak bisa mengibarkan bendera di hadapan ratusan peserta upacara. Bendera akhirnya dikibarkan secara simbolis dengan dipegang di empat ujung bendera sambil menangis. (bay/rie)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.