40% Konsumen Jabar Cerdas

9
Disperindag
CEK LANGSUNG: Bidang perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga pada Disperindag Jabar saat melakukan peninjauan lapangan.

jabarekspres.com, BANDUNG – Hanya sejumlah 40 persen konsumen cerdas di Jawa Barat yang memahami hak dan kewajibanya. Mereka memilih melakukan  pengaduan  apabila  dirugikan. Selebihnya, konsumen memilih diam karena malas atau tidak tahu harus mengadu kemana serta menganggap proses dan prosedur pengaduan lama dan rumit.

”Kondisi ini disebabkan kurangnya pemahaman konsumen akan hak dan kewajibanya. Padahal, hak dan kewajiban konsumen itu dilindungi sesuai UU No 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Untuk itu, Pemprov  Jabar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar senantiasa melakukan sosialisasi dan pengawasan guna mendorong konsumen cerdas,” tutur Kepala Bidang  Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga pada Disperindag Jabar, Bismark di Bandung, kemarin (14/11).

Menurutnya, konsumen yang cerdas adalah konsumen yang mampu menegakan haknya, melaksanakan kewajibannya, serta mampu melindungi dirinya dari barang atau jasa yang merugikan. Konsumen cerdas  hanya membeli produk-produk yang sesuai ketentuan dan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Penggunaan produk dalam negeri akan meningkatkan daya saing dan perekonomian bangsa, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

”Kita terus melakukan sosialisasi dan pengawasan untuk mendorong konsumen yang cerdas. Belum lama ini kita melakukan sosialisasi di SMAN 1 dan 7 Bandung. Harapan kita pemahaman tentang hak dan kewajiban sebagai konsumen bisa meningkatkan. Selain itu, kita minta rekomendasi pemerintah kabupaten/ kota untuk melindungi konsumen di daerahnya,” paparnya.

Rekomendasi ini penting, kata Bismark, pihaknya pernah melakukan pengawasan di Cirebon dan ditemukan 15 ton makanan dan minuman olahan yang kadaluarsa. Kita langsung turun ke lapangan didampingi BPOM dan opd terkait kabupaten/kota, kita minta rekomendasi agar pemerintah kabupaten/ kota mendukung upaya yang kita lakukan dalam rangka melindungi konsumen di sana. Dalam pengawasan pihaknya, senantiasa melibatkan pihak terkait seperti BPOM, peternakan, pertani, kepolisian dan lainnya.

Selain itu, untuk memudahkan konsumen dalam melakukan pengaduan pemerintah memiliki Badan  Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Dengan adanya UU no 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah, kewenangan BPSK yang awalnya berada di kabupaten/ kota, maka sejak tahun 2016 berada di tingkat Provinsi.

“Jawa Barat memiliki BPSK di 15 kabupaten/ kota dan sejak 2017 Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam hal ini Gubernur Jabar mengucurkan dana Rp 5 miliar untuk operasional BPSK. Selain itu, sebagai bentuk konsen Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, nomenklatur perlindungan konsumen (PK) berada sendiri di bawah Diperindag Jabar. Pengaduan konsumen kepada pemerintah mulai meningkat. Rata-rata ada sekitar 10-12 kasus pengaduan ke BPSK setiap bulannya,” paparnya.

Sementara dalam meningkatkan konsumen cerdas  ada Tujuh langkah konsumen cerdas, pertama mulai dari peningkatkan hak dan kewajiban sebagai konsumen yang mengetahui aturan, agar tidak dirugikan saat membeli barang atau mengonsumsi makanan dan minuman. Kedua,  menjadikan produk dalam negeri sebagai pilihan utama, karena kualitas dan kuantitasnya tidak kalah dengan produk luar.

Ketiga,  untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap hasil karya anak bangsa sehingga produk dalam negeri dapat menjadi tuan rumah di negara sendiri. Ditambah dengan membeli barang atau makanan sesuai kebutuhan berdasarkan skala prioritas, bukan karena tergiur harga murah atau produk impor.

Hal ini akan sangat membantu para konsumen dalam menghemat anggaran kebutuhan biaya belanja supaya tidak membengkak. Dipastikan pula produk yang dibeli memenuhi standar mutu, berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kualitasnya terjamin, dan yang perlu diperhatikan untuk memastikan label, manual dan kartu garansinya agar kalau terjadi kerusakan dapat diganti. Termasuk untuk makanan dan minuman atau produk siap saji, harus memperhatikan komposisi kandungan bahan dan masa kadaluarsanya supaya tidak membahayakan kesehatan.

Manfaat dan keuntungan menjadi konsumen cerdas sangat banyak, seperti kesehatan terlindungi dan menghemat anggaran belanja karena lebih mengedepankan skala prioritas, memahami barang yang berkualitas serta jaminannya sesuai ketentuan dan sebagainya. (rls/ign)

BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here