Kepatihan Kembali Semrawut

TIDAK MEMPAN: Pemasangan pot-pot besar di Jalan Kepatihan ternyata tidak membuat PKL kehabisan akal. Kini mereka kembali menjamur dengan alasan ekonomi jelang Ramadan.

PKL Sarankan Koordinasi dengan Pengusaha Setempat

REGOL – Sejumlah Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Kepatihan mengaku siap mengikuti penataan yang akan dilakukan Pemerintah Kota Bandung. Namun hal itu lagi-lagi macet di tengah jalan. Meski sudah ditertibkan, PKL selalu kembali ke kawasan yang selalu ramai itu, terutama menjelang Ramadan.

TIDAK MEMPAN: Pemasangan pot-pot besar di Jalan Kepatihan ternyata tidak membuat PKL kehabisan akal. Kini mereka kembali menjamur dengan alasan ekonomi jelang Ramadan.
TIDAK MEMPAN: Pemasangan pot-pot besar di Jalan Kepatihan ternyata tidak
membuat PKL kehabisan akal. Kini mereka kembali menjamur dengan alasan
ekonomi jelang Ramadan.

Disampaikan salah seorang PKL di Jalan Kepatihan, Roni Reynaldi (36), hingga saat ini Pemkot Bandung belum membicarakan lagi mengenai kelanjutan relokasi para PKL di kawasan Jalan Kepatihan itu sejak Maret lalu. “Ini bagaimana kelanjutannya, jelas kami mempertanyakan hal ini. Sampai saat ini belum ada lagi koordinasi,” tegas Roni, saat ditemui wartawan di Jalan Kepatihan, kemarin (13/6).

Jika hal ini terus dibiarkan dan tidak ada komunikasi lebih lanjut antara PKL dengan pemerintah, Roni khawatir PKL terus menjamur. “Waktu terakhir ketemu dengan Wali Kota, angka PKL yang akan direlokasi jumlahnya sudah dikunci di angka 120. Tapi sekarang jumlahnya makin bertambah, jadi sekitar 200,” ujar Roni.

Apalagi sambung dia, datangnya bulan Ramadan menjadi ajang tahunan para PKL untuk berjualan dan bisa menghasilkan pendapatan lebih dibanding dengan hari-hari biasa. “Kalau Pemkot masih belum ada komunikasi dengan kami, ya, jangan heran kalau PKL ini di bulan Ramadan bisa dua kali lipat. Bulan Ramadan ini kalau kita jualan marema, pendapatannya lumayan,” ucapnya.

Bertambahnya jumlah PKL ini menjadi persoalan. PKL yang sudah siap direlokasi tidak bisa melarang PKL yang baru berjualan. Di satu sisi, pelarangan dikhawatirkan akan menimbulkan gesekan. “Kami juga tidak bisa melarang mereka, karena tidak punya kewenangan,” ujarnya.

Dodi Sanjaya, salah seorang PKL lainnya menuturkan, sambil menunggu relokasi dari pemerintah, untuk sementara waktu sejumlah PKL tetap berjualan di Jalan Kepatihan. Meski begitu sambung Dodi, harus tetap waspada jika ada petugas melakukan razia.

Disinggung mengenai alternatif relokasi, Dodi memaparkan, alangkah baiknya Pemkot Bandung berkoordinasi dengan pengelola pusat perbelanjaan di kawasan tersebut. Dia menilai, pada dasarnya pengusaha formal sebagai pengelola memberikan respons positif. “Kami sudah melakukan pendekatan dengan pengelola dua pusat perbelanjaan di kawasan itu. Upaya itu agar sebagian lahan pusat perbelanjaan untuk digunakan sebagai lapak PKL,” terangnya.

Sekretaris Satgassus PKL Kota Bandung, Ema Sumarna membenarkan wacana relokasi tersebut. Pihaknya membagi menjadi dua alternatif bagi para PKL Kepatihan. Sambung Ema, khusus PKL nonkuliner akan dipindahkan ke Jalan Kebumen, sementara untuk PKL kuliner pihaknya akan menggiring mereka ke basement Alun-Alun Kota Bandung. “Ada beberapa tahap yang sudah kita lakukan, mulai dari pengukuran lapak hingga pengecatan tembok di Jalan Kebumen,” kata Ema.

Namun relokasi PKL nonkuliner pada saat ini mengalami sedikit kendala. Pasalnya, ada salah seorang warga yang mengelola parkir di Jalan Kebumen secara informal. Meski begitu kata Ema, pihaknya sedang berupaya untuk melakukan pendekatan dengan orang yang dimaksud itu. “Ya, kita akan lakukan pendekatan dengan orang itu, kita juga akan melibatkan aparat kewilayahan. Pokoknya kalau dia keukeuh bertahan, saya mau nanya, dasar hukum dia apa, kan harus jelas jangan abu-abu,” pungkasnya. (oka)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here