Sementara itu, salah seorang siswi kelas V SDN Giriasih, Desi Nursyifa, mengatakan kondisi sekolah yang berada di lokasi terpencil menjadi tantangan tersendiri baginya untuk mendapatkan pendidikan. Setiap hari, ia harus berjalan kaki dari rumah menuju sekolah dengan waktu tempuh cukup lama.
Desi mengaku berangkat dari rumah sejak pukul 06.00 WIB agar tidak terlambat mengikuti kegiatan belajar. Medan jalan yang curam membuat perjalanan menuju sekolah cukup menguras tenaga.
“Saya berangkat dari rumah pukul 06.00 WIB, dengan berjalan kaki dari rumah,” katanya.
Baca Juga:CJIBF 2026, Gubernur Ahmad Luthfi Tawarkan Berbagai Proyek InvestasiĀ Usai Mengamuk di RS, Pria Disabilitas Ditemukan Tewas Tenggelam di Situ Cikaret Cibinong
Saat cuaca buruk, perjalanan menuju sekolah menjadi lebih sulit. Jalan tanah yang licin dan ancaman longsor kerap membuat para siswa harus ekstra hati-hati. Untuk berjaga-jaga, Desi biasanya membawa sandal cadangan maupun perlengkapan pelindung hujan.
Kondisi sulitnya akses menuju sekolah membuat para siswa berharap perbaikan jalan segera terealisasi. Mereka ingin bisa berangkat belajar dengan rasa aman tanpa dihantui kekhawatiran saat hujan turun.
“Ya mudah-mudahan jalannya cepat diperbaiki, jadi kalau berangkat sekolah kami tidak takut lagi saat hujan, karena sekarang sering licin dan khawatir longsor,” kata Desi. (Wit)
