Selain teknis depopulasi, SAGAVET mendorong pemerintah untuk membangun sistem pemantauan dini (early warning system) agar pengendalian spesies invasif bersifat preventif, bukan sekadar reaktif. “Keberhasilan normalisasi ekosistem Sungai Ciliwung memerlukan peran aktif warga Jakarta,” ujar drh. Syailin, S.H., M.H., selaku Ketua SAGAVET. Organisasi Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini mengimbau masyarakat untuk mematuhi prinsip: “tidak melepas, tidak menyebarkan, dan segera melaporkan” temuan spesies invasif.
Kuat dugaan, meledaknya populasi Ikan Sapu-sapu ini, di awali dari tindakan membuang ikan tersebut ke sungai. Pada dasarnya, Ikan Sapu-Sapu bukanlah ikan endemis (ikan asli) Sungai Ciliwung, melainkan satwa air tawar asal Amerika Selatan. Besar kemungkinan, ikan ini masuk ke teritorial Jakarta, bersamaan dengan importasi ikan peliharaan. Oleh karena itu, masyarakat harus menyadari benar dan memahami konsekuensi memelihara ikan dan hewan peliharaan. Termasuk bertanggung jawab penuh atas kelangsungan hidup hewan peliharaannya. Jangan sampai, ketika merasa bosan dan dianggap usang, hewan peliharaan ini “dibuang” ke ruang publik. Tindakan ini selain melanggar prinsip perlindungan hewan, juga berdampak pada perubahan ekosistem. Partisipasi publik sangat krusial agar intervensi dapat dilakukan secara tepat tanpa melanggar prinsip-prinsip moral dan agama.
