“Kadang kalau ada kiriman bisa makan. Kalau enggak ya puasa. Kadang enggak ada beras,” ungkap Zahra.
Setelah rumah mereka dinyatakan tidak layak huni, Zahra dan adik-adiknya dievakuasi.
“Karena sudah enggak memungkinkan (tinggal di rumahnya), akhirnya tinggal sementara ke rumah Uwa,” jelasnya.
Baca Juga:Siswa SDN Cantrawayang Belajar Bergantian Gegara Ruang Kelas Ambruk, Tak Ada Kejelasan Soal Perbaikan!Jembatan Cikaleho Ambruk Diterjang Longsor, Jalur Nasional Ciamis-Cirebon Lumpuh Total
Sebelumnya, selama beberapa hari mereka tidur beralaskan tikar dan kasur basah yang pengap dan lembab di sisa bangunan.
Meski telah mendapat bantuan awal dari beberapa pihak baik dari desa, PMI hingga Baznas, kebutuhan untuk pembangunan rumah belum terpenuhi.
“Pertama ada dari Pak Kades sembako sama uang. Terus dari desa BPD. Dari PMI juga ada. Dari Baznas juga ada bantuan uang,” jelas Zahra.
Keinginan Fatimah sederhana namun penuh harapan. “Pengen membangun rumah aja yang nyaman, aman, biar tenang sama adik-adik.”
Sementara itu, Ketua RW 03, Permana Sidik, menjelaskan bahwa situasi ketiga anak yatim ini sangat membutuhkan perhatian.
“Kasihan anak-anak yatim ini. Sudah tidak ada keluarga yang memperhatikan. Alhamdulillah banyak yayasan dan relawan sudah membantu donasi, termasuk material bangunan. Tapi masih belum cukup karena ini harus direhab total,” ucapnya.
Ia juga menyebut jika Zahra tinggal bertiga bersama kedua adiknya semenjak ayahny meninggal dunia. Sedangkan ibunya menikah kembali dan tinggal di Lembang.
Baca Juga:5 Ruang Kelas Ambruk, SMKN 1 Gunung Putri Terapkan Belajar dari RumahPemprov Jabar Bakal Investigasi Penyebab SMKN 1 Gunung Putri Ambruk: Ini Jadi Catatan Kami!
“Kalau ibunya kan sudah berumah tangga lagi di Lembang ya. Ada mungkin dari ibunya kiriman bisa makan ada dari kakaknya. Kadang kala kan kakaknya kabarnya sangat memprihatinkan sekali kadang kala ketika tidak ada ya mereka puasa kadang kala,” tambahnya.
Ia berharap pemerintah lebih peka terhadap kondisi warganya yang terdampak bencana.
Disisi lain, Kepala Desa Maruyung, Apen Supendi, memastikan pihaknya tidak tinggal diam. “Begitu kejadian hari H saya langsung datang ke lapangan dan memberikan bantuan ala kadarnya. Saya pun berkirim surat ke Dinas Sosial, PMI, BPBD, Perkimtan dan lainnya. Kami terus mengupayakan anggaran penanganan rumah roboh,” jelas Apen.
Menurut Apen, bencana tersebut tidak hanya menimpa satu rumah melainkan beberapa rumah akibat bencana puting beliung yang menimpa wilayahnya.
