Kebijakan Rombel Ubah Wajah Kelas di SMAN 1 Cimahi

Siswa SMA melakukan presentasi di depan kelas saat pembelajaran berlangsung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar E
Siswa SMA melakukan presentasi di depan kelas saat pembelajaran berlangsung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kebijakan penataan jumlah rombongan belajar (rombel) yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini mulai terasa dampaknya di sekolah-sekolah negeri, termasuk di SMAN 1 Cimahi.

Sekolah yang berlokasi di kawasan Jalan Pacinan ini harus menyesuaikan diri dengan bertambahnya jumlah siswa per kelas, tanpa penambahan ruang belajar baru. Meski ruang terbatas, pihak sekolah tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran agar tetap kondusif dan menyenangkan.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) SMAN 1 Cimahi, Ano Suwarsono, menjelaskan sejak awal, sekolahnya hanya memiliki 11 rombel per tingkat. Jumlah itu menyesuaikan dengan ketersediaan ruang kelas yang ada.

Baca Juga:Aduan Penerimaan Siswa SMA/SMK Negeri Jateng Berkurang, Ombudsman Apreasiasi Pemprov JatengKasih Palestina Dukung Pemulihan Gaza lewat Penyaluran Bantuan Pangan di Momentum Hari Pangan Dunia

“Jadi SMAN 1 Cimahi sudah beberapa tahun menetapkan 11 rombel di tiap tingkat. Berarti total ada 33 rombel untuk tiga tingkat. Untuk kelas XI dan XII jumlah siswanya 36 per kelas, sedangkan kelas X kini menjadi 43 siswa,” ungkapnya pada Jabar Ekspres, Jum’at (17/10/25).

Menurut Ano, kebijakan penambahan siswa dalam satu kelas ini berimbas pada efisiensi ruang. Secara historis, bangunan SMAN 1 Cimahi memang memiliki ukuran ruang kelas di bawah standar ideal.

“Sejarahnya, bangunan sekolah ini dulunya bekas sekolah dasar milik masyarakat Tionghoa, makanya daerahnya disebut Jalan Pacinan. Ukuran ruangannya rata-rata tidak sampai 72 meter persegi,” jelasnya.Kondisi tersebut membuat pengaturan posisi meja dan jarak antar siswa harus disesuaikan.

“Posisi meja otomatis agak maju ke depan karena ruangnya lebih kecil. Jadi ketika jumlah siswa bertambah dari 36 menjadi 43, kapasitas ruang terasa kurang optimal dan berdampak pada kenyamanan proses belajar,” lanjutnya.

Namun, Ano menegaskan bahwa pihak sekolah tidak menjadikan hal tersebut sebagai hambatan besar. Jam pelajaran tetap berjalan normal, dan guru-guru beradaptasi dengan berbagai strategi agar proses pembelajaran tetap efektif.

“Kita bisa menyiasati agar pengajaran lebih menyenangkan. Biasanya penyesuaian dilakukan pada penguasaan kelas, atau bagi guru yang suaranya kecil kita bantu dengan speaker. Jadi ada antisipasi dan solusi yang bisa diterapkan,” katanya.

Terkait prestasi siswa, Ano memastikan tidak ada penurunan signifikan.

0 Komentar