Ia menambahkan, keistimewaan acara ini adalah momen menari dan bernyanyi bersama Melly Goeslaw diiringi musik live.
“Itu momen yang luar biasa, karena kami bisa langsung berinteraksi dan menari bersama Melly. Semua terasa hidup dan natural,” jelasnya.
Bagi Syntya, tantangan terbesar bukan pada teknis, melainkan pada pembagian waktu. Sebagai koreografer, dia harus bisa membagi waktu antara latihan, pekerjaan lain, dan persiapan acara.
Baca Juga:Persib Genjot Fisik Pemain di Jeda InternasionalJelang Indonesia vs Irak, Calvin Verdonk Diharapkan Pulih Tepat Waktu
“Tapi dengan dukungan SDM dan tim sanggar, semuanya bisa diatasi,” katanya.
Usai acara, hasilnya terasa nyata, mereka dapat banyak hal positif, mulai dari semangat baru para penari muda, jaringan baru, sampai peluang kolaborasi ke depan.
“Banyak berkah yang kami dapat dari acara ini,” ungkapnya penuh rasa syukur.
Sebagai pelaku seni, Syntya menilai bahwa dunia tari kini menghadapi tantangan besar di era digital. Menurutnya, seniman harus bisa menyesuaikan diri tanpa kehilangan esensi tradisi.
“Kita harus melek zaman, mengikuti perkembangan tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi. Itulah kenapa Sanggar Mutiara lebih kami arahkan sebagai sanggar etnik modern, tetap berakar pada budaya, tapi terbuka pada inovasi,” tegasnya.
Untuk mendekatkan seni tari pada generasi muda, Syntya mengembangkan sistem pembelajaran dengan kurikulum terstruktur.
“Anak-anak sekarang cepat bosan. Karena itu, kami berikan variasi. Dalam satu tahun, mereka bisa belajar berbagai genre, dari tari nusantara, modern dance, kontemporer, hingga sendratari,” ujarnya.
Baca Juga:Demi Tiket Piala Dunia 2026, Timnas Indonesia Wajib Kalahkan IrakKluivert Ungkap Tantangan Berat Timnas Indonesia Usai Kalah Tipis dari Arab Saudi
Pendekatan itu membuat Sanggar Tari Mutiara diminati banyak anak muda. Kelas mereka pun selalu penuh.
“Mereka tertarik karena bisa mengeksplor berbagai jenis tari dalam satu wadah,” tambahnya.
Bagi Syntya, momen tersebut adalah pengalaman yang tak terlupakan. “Rasanya luar biasa. Pesan saya untuk generasi muda, kalau bukan kita yang melestarikan budaya, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” katanya penuh semangat.
Ia menutup dengan pesan inspiratif, dalam dunia seni tidak ada yang instan. Semua butuh proses, kerja keras, dan ketekunan. Dari proses itulah lahir insan yang kuat dan berkarakter.
