“Semua yang berkaitan dengan uang pasti rawan. Jadi harus ada pengawasan yang ketat, dari mulai pengumpulan, implementasi, sampai penyalurannya untuk siapa. Semua harus diawasi dengan baik supaya tidak ada celah penyalahgunaan,” tegasnya.
Erwin menyadari bahwa setiap kebijakan sosial yang melibatkan partisipasi warga sering menimbulkan pro dan kontra, apalagi di era keterbukaan informasi saat ini. Namun, ia mengajak masyarakat untuk melihat esensi dari program “Udunan Seribu Sehari”, yakni semangat kebersamaan dan keinginan untuk saling membantu antarwarga.
“Ya orang pasti ada yang pro dan kontra, itu wajar. Tapi kalau kebijakan ini bisa mendorong orang untuk berbagi dan menolong sesama, saya rasa ini langkah yang bagus. Apalagi kalau semangatnya dijaga supaya tetap murni,” tambahnya.
Baca Juga:Dukung Gerakan Poe Ibu, Jeje Minta ASN Bandung Barat Berdonasi Rp1.000 per HariRereongan Poe Ibu: Tumbuhkan Empati namun Rentan Dikorupsi
Menurut Erwin, apa yang dilakukan oleh Gubernur Dedi Mulyadi dapat dimaknai sebagai upaya menjalankan pesan Rasulullah SAW, bahwa sebagian rezeki yang dimiliki seseorang adalah hak orang lain yang membutuhkan.
“Saya kira ini sejalan dengan pesan Rasulullah. Minimal meneladani semangat zakat, bahwa dari penghasilan kita ada hak orang lain. Kalau dijalankan dengan niat tulus, hasilnya pasti luar biasa,” katanya.
Program “Udunan Seribu Sehari” yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi merupakan gerakan sosial berbasis partisipasi warga. Setiap individu diajak untuk menyumbangkan seribu rupiah per hari sebagai bentuk gotong royong membantu masyarakat kurang mampu di Jawa Barat.
Erwin berharap, jika gerakan ini diterapkan dengan prinsip amanah, transparan, dan profesional, maka bukan hanya menjadi proyek simbolik, tetapi benar-benar mampu membawa manfaat nyata bagi masyarakat, terutama warga berpenghasilan rendah di Kota Bandung. (Dam)
