Andi juga menyinggung soal pernyataan-pernyataan publik dari pejabat negara yang dianggap menyesatkan dan memicu kebingungan di kalangan driver.
“Kami tidak butuh janji kosong. Yang kami perlukan adalah sikap yang konsisten dan bertanggung jawab. Jangan membuat gaduh dengan ucapan tanpa dasar. Kalau ucapan sudah dibuat di ruang publik, maka seharusnya punya keberanian untuk dievaluasi secara terbuka.”
Ia juga mengingatkan agar Kementerian Ketenagakerjaan tidak memaksakan para mitra pengemudi untuk masuk dalam kerangka hubungan industrial yang tidak sesuai dengan praktik kemitraan digital.
Baca Juga:Ramalan Zodiak Besok Sabtu, 10 Mei 2025: Aries Ketemu Orang Baru, Sementara Kesabaran Taurus DiujiCara Pinjam Saldo DANA Gratis Rp500.000 di Aplikasi DANA Tanpa Syarat KTP
“Kami minta jangan paksakan kami jadi buruh, serikat, atau apapun yang tidak sesuai dengan realitas kami di lapangan. Kami bukan bagian dari struktur kerja konvensional. Kami butuh solusi yang sesuai zaman, bukan copy-paste dari UU lama.”
Andi menutup orasinya dengan pesan yang sangat jelas: jika pemerintah sungguh ingin membantu driver, hentikan pendekatan politis, dan mulailah menyusun regulasi yang adil dan berpihak, dengan melibatkan komunitas pengemudi sebagai subjek utama.
