Belajar Fungsi Bunyi Lalu Lintas dengan Game Edukasi 2D

Oleh : Hendra Rizal, S.H., M.Pd. (Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Seni UPI)

JABAR EKSPRES – Karakter disiplin dalam berlalu lintas penting untuk ditanamkan sejak usia dini, terutama pada anak usia 4-6 tahun. Usia ini dikenal sebagai masa emas dalam pembentukan karakter, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk mengenalkan pengetahuan ini. Peran orang tua dan pendidik juga sama pentingnya dalam mengenalkan pengetahuan tentang disiplin dalam berlalu lintas demi membentuk generasi disiplin dalam berlalu lintas.

Selama ini, pendidikan karakter disiplin berlalu lintas bagi anak-anak usia dini cenderung masih terbatas pada kegiatan mengunjungi kantor polisi atau taman lalu lintas. Pendekatan ini tentu saja positif, akan tetapi tidak selalu dapat diakses oleh semua anak karena alasan biaya, lokasi dan ketersediaan taman lalu lintas. Selain itu, materi edukasi disiplin berlalu lintas yang diajarkan juga masih terbatas pada pengenalan rambu lalu lintas seperti penggunaan helm saat mengendarai motor, aturan tentang lampu lalu lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL).

Materi edukasi disiplin berlalu lintas yang sering kali terabaikan yaitu pengetahuan tentang fungsi bunyi dalam kegiatan berlalu lintas yang diantaranya bunyi peluit polisi, bunyi klakson kendaraan, hingga bunyi sirine ambulans. Bunyi-bunyi ini berfungsi dalam hal komunikasi dan pergerakan kendaraan di jalan raya. Hal ini senada dengan teori semiotika, bahwa bunyi-bunyi tersebut berfungsi sebagai tanda (sign) dengan penanda berupa suara dan petanda berupa makna atau instruksi tertentu, seperti satu tiupan panjang peluit yang berarti berhenti, dua tiupan pendek untuk berjalan, dan tiga tiupan pendek berulang untuk segera berjalan.

Bagi anak-anak, mengenal dan merespons bunyi lalu lintas dengan benar adalah keterampilan mendasar yang perlu ditanamkan sejak dini. Pemahaman ini dapat membantu anak-anak memahami respon yang tepat dari arahan Polisi melalui bunyi lalu lintas yang ada sehingga pada akhirnya kegiatan berlalu lintas dapat berjalan dengan tertib serta dapat meminimalisir resiko kecelakaan lalu lintas.

Seorang ahli dalam pembelajaran Piaget (1952), menyatakan bahwa anak-anak pada usia dini berada dalam tahap perkembangan kognitif pra-operasional, di mana mereka belajar paling efektif melalui bermain dan aktivitas yang melibatkan interaksi serta imajinasi. Misalnya, dengan bermain peran sebagai polisi lalu lintas, anak-anak dapat memahami bagaimana peluit digunakan untuk mengatur kendaraan, dan apa arti dari berbagai jenis bunyi peluit tersebut.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan